Kamis, 13 Desember 2012

KALIMAT DALAM WACANA


KALIAMAT DALAM WACANA
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang dan Masalah
1.1.1        Latar Belakang
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulis yang memiliki sekurang-kurangnya subjek dan predikat. Bagi seorang pendengar atau pembaca, kalimat adalah kesatuan kata yang mengandung makna atau pikiran. Sedangkan bagi penutur atau penulis, kalimat adalah satu kesatuan pikiran atau makna yang diungkapkan dalam kesatuan kata. Menurut KBBI (2008: 609) kalimat adalah kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan.
Dapat dipahami bahwa sebuah wacana melebihi sebuah kalimat. Hal ini sesuai dengan pengertian bahasa secara sederhana, yakni “alat komunikasi”. Sebagai alat komunikasi, bahasa tentunya tidak diucapkan satu kalimat, tetapi penyampaian gagasan, pikiran, perasaan tersebut dapat berupa kalimat berangkai. Selain itu, analisis terhadap wacana dimaksudkan untuk menginterpretasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa. Inilah yang dimaksudkan dengan wacana dari definisi di atas.
Bila terdiri dari sejumlah kalimat, untuk mencapai keutuhan sebuah wacana, kalimat-kalimat tersebut harus  memiliki kaitan antara yang satu dengan yang lain. Sebagai akibat dari keharusan maka kalimat di dalam wacana, maka strukturnya bisa bermacam-macam.
      Pengaitan sebuah kalimat dengan kalimat lain di dalam sebuah wacana dapat dilakukan dengan sarana atau alat sebagai berikut:
a.       Konjungsi;
b.      Penunjukan;
c.       Kata ganti;
d.      Perapatan;
e.       Padanan kata;
f.       Lawan kata;
g.       Hiponimi;
h.      Kesamaan tema;
i.        Kesejajaran.

1.1.2        Masalah dan Batasan Masalah
1.1.2.1  Masalah
Berdasarkan apa yang di uraikan pada latar belakang, ada beberapa masalah yang timbul, terkait dengan pembahasan kami mengenai “ Kalimat dalam Wacana “ yaitu:
1.      Sarana apa sajakah yang diperlukan dalam pembentukan wacana?
2.      Apa yang di maksud dengan wacana?
3.      Ada berapakah jenis wacana?
4.      Seberapa penting kalimat dalam pembentukan wacana?
5.      Bagaimana struktur kalimat dalam wacana?

1.1.2.2  Batasan Masalah
Berdasarkan beberapa masalah yang timbul dalam makalah ini, kami hanya membahas beberapa masalah yaitu:
1.      Sarana apa sajakah yang diperlukan dalam pembentukan wacana?
2.      Apa yang di maksud dengan wacana?
3.      Bagaimana struktur kalimat dalam wacana?
1.2  Tujuan
Tujuan kami menyusun makalah ini yaitu:
1.      Untuk menegtahui dan memahami apa saja sarana yang diperlukan dalam pembentukan wacana.
2.      Untuk mengetahui dan memahami apa yang disebut dengan wacana.
3.      Untuk mengetahui dan memahami struktur kalimat dalam wacana.
1.3 Ruang Lingkup

Pengaitan sebuah kalimat dengan kalimat lain di dalam sebuah wacana dapat dilakukan dengan sarana atau alat sebagai berikut:
a.       Konjungsi;
b.      Penunjukan;
c.       Kata ganti;
d.      Perapatan;
e.       Padanan kata;
f.       Lawan kata;
g.       Hiponimi;
h.      Kesamaan tema;
i.        Kesejajaran.
Wacana merupakan satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Sebauah wacana sebagai satuan terbesar di dalam hirarki kebahasaan bisa berupa kalimat. Bila terdiri dari sejumlah kalimat, untuk mencapai keutuhan sebuah wacana, kalimat-kalimat tersebut harus  memiliki kaitan antara yang satu dengan yang lain. Kalimat di dalam suatu wacana memiliki struktur yang bermacam-macam.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Wacana
            Wacana adalah satuan bahasa yang terdiri dari sebuah kalimat atau beberapa kalimat yang menyatakan satu pesan atau satu amanat yang utuh. Sebuah wacana sebagai satuan terbesar di dalam hirarki kebahasaan bisa berupa satu kalimat, sepeti ungkapan Jagalah kebersihan. Akan tetapi, lazimnya terdiri dari sejumlah kalimat yang membentuk suatu paragraf. Setiap paragraf dalam wacana memiliki sebuah pikiran pokok dan sejumlah pikiran penjelas. Pikiran pokok tersebut direalisasikan dalam sebuah kalimat utama yang selalu berwujud kalimat bebas. Sedangkan pikiran penjelas direalisasikan dalam kalimat-kalimat penjelas yang wujudnya berupa kalimat terikat. Di dalam wacana, kalimat tidak dapat berdiri sendiri karena satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Akibatnya, struktur kalimat pun menjadi berbeda dengan strukturnya sewaktu berdiri sendiri.
            Istilah wacana (discourse) yang berasal dari Bahasa Latin, discursus, telah digunakan baik dalam arti terbatas maupun luas. Secara terbatas, istilah ini menunjuk pada aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan yang mendasari penggunaan bahasa baik dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Secara lebih luas, istilah wacana menunjuk pada bahasa dalam tindakan serta pola-pola yang menjadi ciri jenis-jenis bahasa dalam tindakan.
            Beberapa contoh kalimat dalam wacana adalah sebagai berikut.
a.       [Benyamin] artis penyanyi, pelawak, dan pemain film itu telah tiada (1). [Dia] dilahirkan di jakarta sebelum tentara jepang menduduki Indonesia (2). Wacana tersebut terdiri dari dua buah kalimat. Kalimat (1) merupakan kalimat bebas; Sedangkan kalimat (2) merupakan kalimat penjelas. Ketika sebagai kalimat yang berdiri sendiri  adalah Benyamin dilahirkan di Jakarta sebelum tentaara Jepang menduduki Indonesia;
b.       Sekarang di Riau amat sukar mencari terubuk (1). Jangankan ikannya, telurnya pun sukar diperoleh (2). Kalau pun bisa diperoleh harganya melambung selangit (3), makanya, ada kecemasan masyarakat nelayan di sana bahwa terubuk yang spesifik itu akan punah (4). Wacana tersebut dibangun oleh empat buah kalimat. Kalimat (1) merupakan kalimat yng bisa berdiri sendiri. Sedangkan kalimat (2), (3), dan (4) adalah kalimat-kalimat terikat.
            Alwi, dkk. (1998:419) mengatakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain dan membentuk kesatuan. Kridalaksana (2001:231) menyatakan bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana menurut Kridalaksana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (misal novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya), paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap. Para penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga sepakat memberikan batasan wacana sebagai berikut, “komunikasi verbal; percakapan; keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah; kemampuan atau prosedur berpikir sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; pertukaran ide secara verbal” (KBBI, 2008:1552).

2.2 Sarana Pengaitan Kalimat
            Pengaitan sebuah kalimat dengan kalimat lain di dalam sebuah wacana(paragraf) dapat dilakukan,antaralain,dengan sarana atau alat:
1.      Konjungsi,
2.      Peninjukan,
3.      Kata ganti,
4.      Perapatan,
5.      Padanan kata,
6.      Lawan kata,
7.      Hiponimi,
8.      Kesamaan tema,
9.      Kesejajaran.
Konjungsi
            Yang digunakan untuk menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat lain dalam sebuah klausa adalah konjungsi antar kalimat. Konjungsi antarkalimat ini dapat dibedakan atas :
            (a) Konjungsi yang menyatakan kesimpulan, yaitu konjungsi jadi, maka(makanya), kalau begitu, dengan demikian, dan begitulah. Contoh:
            - Bulan lalu kamu meminjam uang saya Rp 100.000,-, sekarang meminjam lagi Rp 60.000,-, jadi, hutangmu semua berjumlah Rp 160.000,-.
            (b) Konjungsi yang menyatakan ‘sebab’ atau ‘alasan’, yaitu konjungsi sebab itu, karena itu, oleh karena itu, dan itulah sebabnya. Contoh:
            - Sungai-sungai dan saluran-saluran air di jakarta penuh dengan sampah dan ketoran. Oleh karena itu,kita tidak perluh heran kalau bahaya banjir selalu mengancam jakarta.
            (c) konjungsi yang menyatakan ‘waktu’, yaitu konjungsi sebelum itu, sesudah itu, dan sementara. Contoh:
            - Kami baru saja selasai membangun balai pertemuan ini.sebelum itu,kami telah berhasil merehab masjid tua itu.
            (d) Konjungsi yang menyatakan ‘menegaskan’atau ‘menguatkan’, yaitu konjungsi itu pun, lagi pula, apalagi, selain itu, dan tambahan lagi. Contoh:
            - Orang lain menyumbang sedikitnya lima puluhg ribu rupiah, dia hanya menyumbang lima ribu rupiah. Itu pun diberikannya dengan berat hati.
            (e) Konjungsi yang menyatakan ‘pertentangan’, yaitu konjungsi sebaliknya dan berbeda dengan. Contoh:
            - Di kantor beliau sangat galak kepada bawahannya.sebaliknya, di rumah dia sangat takut pada istri.
Penunjukan
Hubungan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain di dalam satu wacana dapat pula dilakukan dengan penunjukan. Kata-kata yang digunakan adalah kata ganti tunjuk (pronomina demonstrativa) itu dan ini. Kata ganti tunjuk itu digunakan untuk menunjuk sesuatu yang jauh atau dianggap jauh; dan kata ganti tunjuk ini digunakan untuk menunjuk yang dekat atau dianggap dekat. Contoh :
- kebijakan untuk menaikkan harga BBM terpaksa dilakukan, meskipun didasari akan memberi dampak yang luas dalam masyarakat. Itu terpaksa dilakukan demi menyelamatkan anggaran belanja Negara.
- kalau kamu rajin belajar, rajin beribadat, dan taat pada orang tua, tentu hidupme akan bahagia. Ini kukatakan kepadamu karena kamu sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.
Kata Ganti (Pronomina Persona)
Kata yang digunakan untuk menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain di dalam satu wacana adalah kata ganti orang ketiga, baik tunggal maupun jamak, yaitu kata-kata dia, ia, nya, dan mereka. Termasuk juga kata beliau, almarhum, dan almarhuma. Contoh:
2.3 Struktur Kalimat dalam Wacana
BAB III PENUTUP
3.1  Kesimpulan
3.2  Kritik dan Saran



Wacana adalah satuan bahasa yang terdiri dari sebuah kalimat atau beberapa kalimat yang menyatakan satu pesan atau satu amanat yang utuh. Sebuah wacana sebagai satuan terbesar di dalam hirarki kebahasaan bisa berupa satu kalimat. Akan tetapi, lazimnya terdiri dari sejumlah kalimat yang membentuk suatu paragraf. Setiap paragraf dalam wacana memiliki sebuah pikiran pokok dan sejumlah pikiran penjelas. Pikiran pokok tersebut direalisasikan dalam sebuah kalimat utama yang selalu berwujud kalimat bebas. Sedangkan pikiran penjelas direalisasikan dalam kalimat-kalimat penjelas yang wujudnya berupa kalimat terikat. Di dalam wacana, kalimat tidak dapat berdiri sendiri karena satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Alwi, dkk. (1998:419) mengatakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain dan membentuk kesatuan.
Kridalaksana (2001:231) menyatakan bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana menurut Kridalaksana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (misal novel, buku, seri ensiklopedia, dsb.), paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap. Para penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga sepakat memberikan batasan wacana sebagai berikut.
“komunikasi verbal; percakapan; keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah; kemampuan atau prosedur berpikir sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; pertukaran ide secara verbal” (KBBI, 2005:1265).

2 komentar: