KALIAMAT
DALAM WACANA
BAB
1 PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang dan Masalah
1.1.1
Latar Belakang
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil,
dalam wujud lisan atau tulis yang memiliki sekurang-kurangnya subjek dan
predikat. Bagi seorang pendengar atau pembaca, kalimat adalah kesatuan kata
yang mengandung makna atau pikiran. Sedangkan bagi penutur atau penulis,
kalimat adalah satu kesatuan pikiran atau makna yang diungkapkan dalam kesatuan
kata. Menurut KBBI (2008: 609) kalimat adalah kesatuan ujar yang mengungkapkan
suatu konsep pikiran dan perasaan.
Dapat dipahami bahwa sebuah wacana
melebihi sebuah kalimat. Hal ini sesuai dengan pengertian bahasa secara
sederhana, yakni “alat komunikasi”. Sebagai alat komunikasi, bahasa tentunya
tidak diucapkan satu kalimat, tetapi penyampaian gagasan, pikiran, perasaan
tersebut dapat berupa kalimat berangkai. Selain itu, analisis terhadap wacana
dimaksudkan untuk menginterpretasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan
konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks
linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian
kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti sedangkan konteks etnografi
berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor
budaya masyarakat pemakai bahasa. Inilah yang dimaksudkan dengan wacana dari
definisi di atas.
Bila
terdiri dari sejumlah kalimat, untuk mencapai keutuhan sebuah wacana,
kalimat-kalimat tersebut harus memiliki
kaitan antara yang satu dengan yang lain. Sebagai akibat dari keharusan maka
kalimat di dalam wacana, maka strukturnya bisa bermacam-macam.
Pengaitan sebuah kalimat dengan kalimat
lain di dalam sebuah wacana dapat dilakukan dengan sarana atau alat sebagai
berikut:
a.
Konjungsi;
b.
Penunjukan;
c.
Kata ganti;
d.
Perapatan;
e.
Padanan kata;
f.
Lawan kata;
g.
Hiponimi;
h.
Kesamaan tema;
i.
Kesejajaran.
1.1.2
Masalah dan Batasan
Masalah
1.1.2.1 Masalah
Berdasarkan
apa yang di uraikan pada latar belakang, ada beberapa masalah yang timbul,
terkait dengan pembahasan kami mengenai “ Kalimat dalam Wacana “ yaitu:
1. Sarana
apa sajakah yang diperlukan dalam pembentukan wacana?
2. Apa
yang di maksud dengan wacana?
3. Ada
berapakah jenis wacana?
4. Seberapa
penting kalimat dalam pembentukan wacana?
5. Bagaimana
struktur kalimat dalam wacana?
1.1.2.2 Batasan
Masalah
Berdasarkan
beberapa masalah yang timbul dalam makalah ini, kami hanya membahas beberapa
masalah yaitu:
1. Sarana
apa sajakah yang diperlukan dalam pembentukan wacana?
2. Apa
yang di maksud dengan wacana?
3. Bagaimana
struktur kalimat dalam wacana?
1.2 Tujuan
Tujuan kami menyusun
makalah ini yaitu:
1. Untuk
menegtahui dan memahami apa saja sarana yang diperlukan dalam pembentukan wacana.
2. Untuk
mengetahui dan memahami apa yang disebut dengan wacana.
3. Untuk
mengetahui dan memahami struktur kalimat dalam wacana.
1.3 Ruang Lingkup
Pengaitan sebuah kalimat dengan kalimat lain di dalam sebuah wacana
dapat dilakukan dengan sarana atau alat sebagai berikut:
a.
Konjungsi;
b.
Penunjukan;
c.
Kata ganti;
d.
Perapatan;
e.
Padanan kata;
f.
Lawan kata;
g.
Hiponimi;
h.
Kesamaan tema;
i.
Kesejajaran.
Wacana merupakan satuan bahasa di atas tataran kalimat yang
digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Sebauah wacana sebagai
satuan terbesar di dalam hirarki kebahasaan bisa berupa kalimat. Bila terdiri
dari sejumlah kalimat, untuk mencapai keutuhan sebuah wacana, kalimat-kalimat
tersebut harus memiliki kaitan antara
yang satu dengan yang lain. Kalimat di dalam suatu wacana memiliki struktur
yang bermacam-macam.
BAB
II PEMBAHASAN
2.1
Wacana
Wacana
adalah satuan bahasa yang terdiri dari sebuah kalimat atau beberapa kalimat
yang menyatakan satu pesan atau satu amanat yang utuh. Sebuah wacana sebagai
satuan terbesar di dalam hirarki kebahasaan bisa berupa satu kalimat, sepeti
ungkapan Jagalah kebersihan. Akan
tetapi, lazimnya terdiri dari sejumlah kalimat yang membentuk suatu paragraf.
Setiap paragraf dalam wacana memiliki sebuah pikiran pokok dan sejumlah pikiran
penjelas. Pikiran pokok tersebut direalisasikan dalam sebuah kalimat utama yang
selalu berwujud kalimat bebas. Sedangkan pikiran penjelas direalisasikan dalam
kalimat-kalimat penjelas yang wujudnya berupa kalimat terikat. Di dalam wacana,
kalimat tidak dapat berdiri sendiri karena satu dengan yang lainnya saling
berkaitan. Akibatnya, struktur kalimat pun menjadi berbeda dengan strukturnya
sewaktu berdiri sendiri.
Istilah
wacana (discourse) yang berasal dari Bahasa Latin, discursus,
telah digunakan baik dalam arti terbatas maupun luas. Secara terbatas, istilah
ini menunjuk pada aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan yang mendasari
penggunaan bahasa baik dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Secara lebih
luas, istilah wacana menunjuk pada bahasa dalam tindakan serta pola-pola yang
menjadi ciri jenis-jenis bahasa dalam tindakan.
Beberapa
contoh kalimat dalam wacana adalah sebagai berikut.
a. [Benyamin] artis penyanyi, pelawak, dan pemain
film itu telah tiada (1). [Dia] dilahirkan di jakarta sebelum tentara jepang
menduduki Indonesia (2). Wacana tersebut terdiri dari dua buah kalimat. Kalimat
(1) merupakan kalimat bebas; Sedangkan kalimat (2) merupakan kalimat penjelas.
Ketika sebagai kalimat yang berdiri sendiri
adalah Benyamin dilahirkan di Jakarta sebelum tentaara Jepang menduduki
Indonesia;
b. Sekarang di Riau amat sukar mencari terubuk (1). Jangankan ikannya,
telurnya pun sukar diperoleh (2). Kalau pun bisa diperoleh harganya melambung
selangit (3), makanya, ada kecemasan masyarakat nelayan di sana bahwa terubuk
yang spesifik itu akan punah (4). Wacana tersebut dibangun oleh empat buah kalimat.
Kalimat (1) merupakan kalimat yng bisa berdiri sendiri. Sedangkan kalimat (2),
(3), dan (4) adalah kalimat-kalimat terikat.
Alwi, dkk. (1998:419) mengatakan bahwa wacana adalah
rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan
proposisi yang lain dan membentuk kesatuan. Kridalaksana (2001:231) menyatakan
bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal
merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana menurut
Kridalaksana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (misal novel, buku,
seri ensiklopedia, dan sebagainya), paragraf, kalimat atau kata yang membawa
amanat yang lengkap. Para penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga
sepakat memberikan batasan wacana sebagai berikut, “komunikasi verbal;
percakapan; keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; satuan bahasa
terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh seperti
novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah; kemampuan atau prosedur berpikir
sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal
sehat; pertukaran ide secara verbal” (KBBI, 2008:1552).
2.2 Sarana Pengaitan
Kalimat
Pengaitan
sebuah kalimat dengan kalimat lain di dalam sebuah wacana(paragraf) dapat dilakukan,antaralain,dengan
sarana atau alat:
1.
Konjungsi,
2.
Peninjukan,
3.
Kata ganti,
4.
Perapatan,
5.
Padanan kata,
6.
Lawan kata,
7.
Hiponimi,
8.
Kesamaan tema,
9.
Kesejajaran.
Konjungsi
Yang
digunakan untuk menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat lain dalam
sebuah klausa adalah konjungsi antar kalimat. Konjungsi antarkalimat ini dapat
dibedakan atas :
(a) Konjungsi
yang menyatakan kesimpulan, yaitu konjungsi jadi,
maka(makanya), kalau begitu, dengan demikian, dan begitulah. Contoh:
- Bulan
lalu kamu meminjam uang saya Rp 100.000,-, sekarang meminjam lagi Rp 60.000,-, jadi, hutangmu semua berjumlah Rp
160.000,-.
(b)
Konjungsi yang menyatakan ‘sebab’ atau ‘alasan’, yaitu konjungsi sebab itu, karena itu, oleh karena itu, dan
itulah sebabnya. Contoh:
-
Sungai-sungai dan saluran-saluran air di jakarta penuh dengan sampah dan
ketoran. Oleh karena itu,kita tidak
perluh heran kalau bahaya banjir selalu mengancam jakarta.
(c)
konjungsi yang menyatakan ‘waktu’, yaitu konjungsi sebelum itu, sesudah itu,
dan sementara. Contoh:
- Kami baru
saja selasai membangun balai pertemuan ini.sebelum
itu,kami telah berhasil merehab masjid tua itu.
(d)
Konjungsi yang menyatakan ‘menegaskan’atau ‘menguatkan’, yaitu konjungsi itu
pun, lagi pula, apalagi, selain itu, dan tambahan lagi. Contoh:
- Orang
lain menyumbang sedikitnya lima puluhg ribu rupiah, dia hanya menyumbang lima
ribu rupiah. Itu pun diberikannya
dengan berat hati.
(e)
Konjungsi yang menyatakan ‘pertentangan’, yaitu konjungsi sebaliknya dan
berbeda dengan. Contoh:
- Di kantor
beliau sangat galak kepada bawahannya.sebaliknya,
di rumah dia sangat takut pada istri.
Penunjukan
Hubungan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain di dalam
satu wacana dapat pula dilakukan dengan penunjukan. Kata-kata yang digunakan
adalah kata ganti tunjuk (pronomina demonstrativa) itu dan ini. Kata ganti
tunjuk itu digunakan untuk menunjuk
sesuatu yang jauh atau dianggap jauh; dan kata ganti tunjuk ini digunakan untuk menunjuk yang dekat atau
dianggap dekat. Contoh :
- kebijakan untuk menaikkan harga BBM terpaksa dilakukan,
meskipun didasari akan memberi dampak yang luas dalam masyarakat. Itu terpaksa dilakukan demi
menyelamatkan anggaran belanja Negara.
- kalau kamu rajin belajar, rajin beribadat, dan taat pada
orang tua, tentu hidupme akan bahagia. Ini
kukatakan kepadamu karena kamu sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.
Kata Ganti (Pronomina Persona)
Kata yang digunakan untuk menghubungkan kalimat yang satu
dengan kalimat yang lain di dalam satu wacana adalah kata ganti orang ketiga,
baik tunggal maupun jamak, yaitu kata-kata
dia, ia, nya, dan mereka. Termasuk
juga kata beliau, almarhum, dan almarhuma. Contoh:
2.3
Struktur Kalimat dalam Wacana
BAB
III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Kritik
dan Saran
Wacana
adalah satuan bahasa yang terdiri dari sebuah kalimat atau beberapa kalimat
yang menyatakan satu pesan atau satu amanat yang utuh. Sebuah wacana sebagai
satuan terbesar di dalam hirarki kebahasaan bisa berupa satu kalimat. Akan
tetapi, lazimnya terdiri dari sejumlah kalimat yang membentuk suatu paragraf.
Setiap paragraf dalam wacana memiliki sebuah pikiran pokok dan sejumlah pikiran
penjelas. Pikiran pokok tersebut direalisasikan dalam sebuah kalimat utama yang
selalu berwujud kalimat bebas. Sedangkan pikiran penjelas direalisasikan dalam
kalimat-kalimat penjelas yang wujudnya berupa kalimat terikat. Di dalam wacana,
kalimat tidak dapat berdiri sendiri karena satu dengan yang lainnya saling
berkaitan. Alwi, dkk. (1998:419)
mengatakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang
menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain dan membentuk
kesatuan.
Kridalaksana (2001:231) menyatakan bahwa
wacana merupakan satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan
satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana menurut Kridalaksana
direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (misal novel, buku, seri
ensiklopedia, dsb.), paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang
lengkap. Para penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga sepakat memberikan
batasan wacana sebagai berikut.
“komunikasi verbal; percakapan; keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah; kemampuan atau prosedur berpikir sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; pertukaran ide secara verbal” (KBBI, 2005:1265).
“komunikasi verbal; percakapan; keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah; kemampuan atau prosedur berpikir sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; pertukaran ide secara verbal” (KBBI, 2005:1265).
dak lengkap materinya,...?
BalasHapusgak lengkap untuk infonya..????????
BalasHapus