Rabu, 26 Desember 2012

LUKA KU HARI INI

Goresan 26 desember 2012. YA... luka ku hari ini tidak mungkin akan terlupakan seumur hidupku mungkin!!
terimakasih teman atas luka ini, dari luka ini aku semakin memahami siapa dirimu.
berdo'alah saat kau datang membutuhkanku, Allah masih membukakan hatiku untuk membantumu.
Aku juga berharap agar hatiku tidak tertutup untuk melihat kebaikanmu, karena luka ini.
Aku kira kau adalah teman yang dapat di andalkan untuk hal kecil seperti ini, namun perkiraan ku hari ini salah besar..salahhhh sekali kawan..,.( kau adalah teman yang tak tau balas budi ) aku tidak mengharapkan kau membalas semua yang pernah aku lakukan padamu..tetapi paling tidaknya kau sadar diri bahwa  suatu saat nanti kau masih akan membutuhkanku dan mungkin begitu juga padaku masih membutuhkanmu.

sering aku mendapatkan perlakuan jahat darimu,, bukan sifatku untuk membalasnya...
namun teman, hari ini air mataku telah terjatuh menahan sakit ini. dan aku yakin kau tidak dapat merasakannya. karena kau adalah teman yang berhati emas tapi jauh dari kebijakan.

Walaupun demikian teman,, aku ucapkan terimakasih atas luka ini. dan aku berdo'a semoga engkau berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi...
cukup aku yang lukai seperti ini...cukup aku saja....


Kamis, 13 Desember 2012

KALIMAT DALAM WACANA


KALIAMAT DALAM WACANA
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang dan Masalah
1.1.1        Latar Belakang
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulis yang memiliki sekurang-kurangnya subjek dan predikat. Bagi seorang pendengar atau pembaca, kalimat adalah kesatuan kata yang mengandung makna atau pikiran. Sedangkan bagi penutur atau penulis, kalimat adalah satu kesatuan pikiran atau makna yang diungkapkan dalam kesatuan kata. Menurut KBBI (2008: 609) kalimat adalah kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan.
Dapat dipahami bahwa sebuah wacana melebihi sebuah kalimat. Hal ini sesuai dengan pengertian bahasa secara sederhana, yakni “alat komunikasi”. Sebagai alat komunikasi, bahasa tentunya tidak diucapkan satu kalimat, tetapi penyampaian gagasan, pikiran, perasaan tersebut dapat berupa kalimat berangkai. Selain itu, analisis terhadap wacana dimaksudkan untuk menginterpretasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa. Inilah yang dimaksudkan dengan wacana dari definisi di atas.
Bila terdiri dari sejumlah kalimat, untuk mencapai keutuhan sebuah wacana, kalimat-kalimat tersebut harus  memiliki kaitan antara yang satu dengan yang lain. Sebagai akibat dari keharusan maka kalimat di dalam wacana, maka strukturnya bisa bermacam-macam.
      Pengaitan sebuah kalimat dengan kalimat lain di dalam sebuah wacana dapat dilakukan dengan sarana atau alat sebagai berikut:
a.       Konjungsi;
b.      Penunjukan;
c.       Kata ganti;
d.      Perapatan;
e.       Padanan kata;
f.       Lawan kata;
g.       Hiponimi;
h.      Kesamaan tema;
i.        Kesejajaran.

1.1.2        Masalah dan Batasan Masalah
1.1.2.1  Masalah
Berdasarkan apa yang di uraikan pada latar belakang, ada beberapa masalah yang timbul, terkait dengan pembahasan kami mengenai “ Kalimat dalam Wacana “ yaitu:
1.      Sarana apa sajakah yang diperlukan dalam pembentukan wacana?
2.      Apa yang di maksud dengan wacana?
3.      Ada berapakah jenis wacana?
4.      Seberapa penting kalimat dalam pembentukan wacana?
5.      Bagaimana struktur kalimat dalam wacana?

1.1.2.2  Batasan Masalah
Berdasarkan beberapa masalah yang timbul dalam makalah ini, kami hanya membahas beberapa masalah yaitu:
1.      Sarana apa sajakah yang diperlukan dalam pembentukan wacana?
2.      Apa yang di maksud dengan wacana?
3.      Bagaimana struktur kalimat dalam wacana?
1.2  Tujuan
Tujuan kami menyusun makalah ini yaitu:
1.      Untuk menegtahui dan memahami apa saja sarana yang diperlukan dalam pembentukan wacana.
2.      Untuk mengetahui dan memahami apa yang disebut dengan wacana.
3.      Untuk mengetahui dan memahami struktur kalimat dalam wacana.
1.3 Ruang Lingkup

Pengaitan sebuah kalimat dengan kalimat lain di dalam sebuah wacana dapat dilakukan dengan sarana atau alat sebagai berikut:
a.       Konjungsi;
b.      Penunjukan;
c.       Kata ganti;
d.      Perapatan;
e.       Padanan kata;
f.       Lawan kata;
g.       Hiponimi;
h.      Kesamaan tema;
i.        Kesejajaran.
Wacana merupakan satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Sebauah wacana sebagai satuan terbesar di dalam hirarki kebahasaan bisa berupa kalimat. Bila terdiri dari sejumlah kalimat, untuk mencapai keutuhan sebuah wacana, kalimat-kalimat tersebut harus  memiliki kaitan antara yang satu dengan yang lain. Kalimat di dalam suatu wacana memiliki struktur yang bermacam-macam.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Wacana
            Wacana adalah satuan bahasa yang terdiri dari sebuah kalimat atau beberapa kalimat yang menyatakan satu pesan atau satu amanat yang utuh. Sebuah wacana sebagai satuan terbesar di dalam hirarki kebahasaan bisa berupa satu kalimat, sepeti ungkapan Jagalah kebersihan. Akan tetapi, lazimnya terdiri dari sejumlah kalimat yang membentuk suatu paragraf. Setiap paragraf dalam wacana memiliki sebuah pikiran pokok dan sejumlah pikiran penjelas. Pikiran pokok tersebut direalisasikan dalam sebuah kalimat utama yang selalu berwujud kalimat bebas. Sedangkan pikiran penjelas direalisasikan dalam kalimat-kalimat penjelas yang wujudnya berupa kalimat terikat. Di dalam wacana, kalimat tidak dapat berdiri sendiri karena satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Akibatnya, struktur kalimat pun menjadi berbeda dengan strukturnya sewaktu berdiri sendiri.
            Istilah wacana (discourse) yang berasal dari Bahasa Latin, discursus, telah digunakan baik dalam arti terbatas maupun luas. Secara terbatas, istilah ini menunjuk pada aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan yang mendasari penggunaan bahasa baik dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Secara lebih luas, istilah wacana menunjuk pada bahasa dalam tindakan serta pola-pola yang menjadi ciri jenis-jenis bahasa dalam tindakan.
            Beberapa contoh kalimat dalam wacana adalah sebagai berikut.
a.       [Benyamin] artis penyanyi, pelawak, dan pemain film itu telah tiada (1). [Dia] dilahirkan di jakarta sebelum tentara jepang menduduki Indonesia (2). Wacana tersebut terdiri dari dua buah kalimat. Kalimat (1) merupakan kalimat bebas; Sedangkan kalimat (2) merupakan kalimat penjelas. Ketika sebagai kalimat yang berdiri sendiri  adalah Benyamin dilahirkan di Jakarta sebelum tentaara Jepang menduduki Indonesia;
b.       Sekarang di Riau amat sukar mencari terubuk (1). Jangankan ikannya, telurnya pun sukar diperoleh (2). Kalau pun bisa diperoleh harganya melambung selangit (3), makanya, ada kecemasan masyarakat nelayan di sana bahwa terubuk yang spesifik itu akan punah (4). Wacana tersebut dibangun oleh empat buah kalimat. Kalimat (1) merupakan kalimat yng bisa berdiri sendiri. Sedangkan kalimat (2), (3), dan (4) adalah kalimat-kalimat terikat.
            Alwi, dkk. (1998:419) mengatakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain dan membentuk kesatuan. Kridalaksana (2001:231) menyatakan bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana menurut Kridalaksana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (misal novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya), paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap. Para penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga sepakat memberikan batasan wacana sebagai berikut, “komunikasi verbal; percakapan; keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah; kemampuan atau prosedur berpikir sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; pertukaran ide secara verbal” (KBBI, 2008:1552).

2.2 Sarana Pengaitan Kalimat
            Pengaitan sebuah kalimat dengan kalimat lain di dalam sebuah wacana(paragraf) dapat dilakukan,antaralain,dengan sarana atau alat:
1.      Konjungsi,
2.      Peninjukan,
3.      Kata ganti,
4.      Perapatan,
5.      Padanan kata,
6.      Lawan kata,
7.      Hiponimi,
8.      Kesamaan tema,
9.      Kesejajaran.
Konjungsi
            Yang digunakan untuk menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat lain dalam sebuah klausa adalah konjungsi antar kalimat. Konjungsi antarkalimat ini dapat dibedakan atas :
            (a) Konjungsi yang menyatakan kesimpulan, yaitu konjungsi jadi, maka(makanya), kalau begitu, dengan demikian, dan begitulah. Contoh:
            - Bulan lalu kamu meminjam uang saya Rp 100.000,-, sekarang meminjam lagi Rp 60.000,-, jadi, hutangmu semua berjumlah Rp 160.000,-.
            (b) Konjungsi yang menyatakan ‘sebab’ atau ‘alasan’, yaitu konjungsi sebab itu, karena itu, oleh karena itu, dan itulah sebabnya. Contoh:
            - Sungai-sungai dan saluran-saluran air di jakarta penuh dengan sampah dan ketoran. Oleh karena itu,kita tidak perluh heran kalau bahaya banjir selalu mengancam jakarta.
            (c) konjungsi yang menyatakan ‘waktu’, yaitu konjungsi sebelum itu, sesudah itu, dan sementara. Contoh:
            - Kami baru saja selasai membangun balai pertemuan ini.sebelum itu,kami telah berhasil merehab masjid tua itu.
            (d) Konjungsi yang menyatakan ‘menegaskan’atau ‘menguatkan’, yaitu konjungsi itu pun, lagi pula, apalagi, selain itu, dan tambahan lagi. Contoh:
            - Orang lain menyumbang sedikitnya lima puluhg ribu rupiah, dia hanya menyumbang lima ribu rupiah. Itu pun diberikannya dengan berat hati.
            (e) Konjungsi yang menyatakan ‘pertentangan’, yaitu konjungsi sebaliknya dan berbeda dengan. Contoh:
            - Di kantor beliau sangat galak kepada bawahannya.sebaliknya, di rumah dia sangat takut pada istri.
Penunjukan
Hubungan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain di dalam satu wacana dapat pula dilakukan dengan penunjukan. Kata-kata yang digunakan adalah kata ganti tunjuk (pronomina demonstrativa) itu dan ini. Kata ganti tunjuk itu digunakan untuk menunjuk sesuatu yang jauh atau dianggap jauh; dan kata ganti tunjuk ini digunakan untuk menunjuk yang dekat atau dianggap dekat. Contoh :
- kebijakan untuk menaikkan harga BBM terpaksa dilakukan, meskipun didasari akan memberi dampak yang luas dalam masyarakat. Itu terpaksa dilakukan demi menyelamatkan anggaran belanja Negara.
- kalau kamu rajin belajar, rajin beribadat, dan taat pada orang tua, tentu hidupme akan bahagia. Ini kukatakan kepadamu karena kamu sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.
Kata Ganti (Pronomina Persona)
Kata yang digunakan untuk menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain di dalam satu wacana adalah kata ganti orang ketiga, baik tunggal maupun jamak, yaitu kata-kata dia, ia, nya, dan mereka. Termasuk juga kata beliau, almarhum, dan almarhuma. Contoh:
2.3 Struktur Kalimat dalam Wacana
BAB III PENUTUP
3.1  Kesimpulan
3.2  Kritik dan Saran



Wacana adalah satuan bahasa yang terdiri dari sebuah kalimat atau beberapa kalimat yang menyatakan satu pesan atau satu amanat yang utuh. Sebuah wacana sebagai satuan terbesar di dalam hirarki kebahasaan bisa berupa satu kalimat. Akan tetapi, lazimnya terdiri dari sejumlah kalimat yang membentuk suatu paragraf. Setiap paragraf dalam wacana memiliki sebuah pikiran pokok dan sejumlah pikiran penjelas. Pikiran pokok tersebut direalisasikan dalam sebuah kalimat utama yang selalu berwujud kalimat bebas. Sedangkan pikiran penjelas direalisasikan dalam kalimat-kalimat penjelas yang wujudnya berupa kalimat terikat. Di dalam wacana, kalimat tidak dapat berdiri sendiri karena satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Alwi, dkk. (1998:419) mengatakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain dan membentuk kesatuan.
Kridalaksana (2001:231) menyatakan bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana menurut Kridalaksana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (misal novel, buku, seri ensiklopedia, dsb.), paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap. Para penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga sepakat memberikan batasan wacana sebagai berikut.
“komunikasi verbal; percakapan; keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah; kemampuan atau prosedur berpikir sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; pertukaran ide secara verbal” (KBBI, 2005:1265).

PSIKOLINGUISTIK (BAHASA ISYARAT)


PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Komunikasi dengan bahasa oleh manusia dilakukan melalui kegiatan berbicara dan mendengarkan. Sementara itu kemampuan bahasa diperoleh melalui peniruan bunyi bahasa yang diterima melalui pendengaran. Sehingga karena anak tunarungu tidak mendengar suara yang dapat ditiru maka kemampuan bicaranya sulit berkembang, sehingga hambatan-hambatan pada aspek ini mengakibatkan individu sulit berkomunikasi dengan orang lain yang lazim menggunakan bahasa verbal sebagai alat untuk berkomunikasi.
Anak tuna rungu adalah individu yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar, kondisi ini sangat berdampak dalam kehidupannya, baik sebagai individu maupun sebagai insan sosial. Kesulitan siswa tunarungu dalam berbicara dan memahami pembicaraan orang lain, mengakibatkan ia sulit berkomunikasi. Berbagai penelitian tentang anak tunarungu menunjukan penguasaan bahasa lisan siswa tunarungu masih rendah, sehingga hal tersebut berdampak terhadap apresiasi dan prestasi akademik secara umum. Fenomena ini menunjukan kurang efektifnya penggunaan bahasa dan komunikasi pada anak tunarungu di sekolah, dikeluarga ataupun dalam pergaulan hidup sehari-hari. Sehingga alternatif penggunaan berbagai media dalam pembelajaran menjadi hal penting dan mendesak dikaji secara terus menerus.
Gerakan tubuh biasanya digunakan untuk menggantikan suatu kata atau frasa, misalnya mengangguk untuk mengatakan ya; untuk mengilustrasikan atau menjelaskan sesuatu; menunjukkan perasaan, misalnya memukul meja untuk menunjukkan kemarahan; untuk mengatur atau mengendalikan jalannya percakapan; atau untuk melepaskan ketegangan.
Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi nonverbal ialah menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, dan sebagainya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara.


1.2    Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas ada beberapa masalah, yaitu :
-          Apa yang anda ketahui tentang bahasa isyarat?
-          Apa kegunaan bahasa tubuh?
-          Bagaimana orang tuna rungu berkomunikasi?
-          Bagaimana pendekatan komunikasi untuk orang tuna rungu?
-          Pentingkah bahasa tulis untuk orang tuna rungu?
1.3    Tujuan
Tujuan kami menyusun makalah ini adalah untuk memahami lebih dalam lagi bahasa isyarat untuk orang-orang tuna rungu. Seberapa penting bahasa isyarat untuk orang-orang tuna rungu? Perlukah orang-orang tuna rungu mengenal huruf-huruf ? menjawab pertanyaan-pertanyaan ini juga tujuan kami menyusun makalah ini.
Selain dari itu, tujuan kami menyusun makalah ini untuk memenuhi tugas kelompok yang telah diberikan oleh Bapak dosen mata kuliah Psikolinguistik di kelas 5 B Pendidikan Bahasa Indonesia. Serta berbagai sedikit pengetahuan kepada rekan-rekan juga tujuan kami menyusun makalah ini.











PEMBAHASAN
BAHASA ISYARAT DAN BAHASA TULIS PADA ORANG TULI
Bahasa isyarat adalah bahasa yang mengutamakan komunikasi manual, bahasa tubuh, dan gerak bibir, bukannya suara, untuk berkomunikasi. Kaum tunarungu adalah kelompok utama yang menggunakan bahasa ini, biasanya dengan mengkombinasikan bentuk tangan, orientasi dan gerak tangan, lengan, dan tubuh, serta ekspresi wajah untuk mengungkapkan pikiran mereka. Bahasa tulis adalah ragam bahasa baku yang digunkan sebagai sarana komunikasi secara tertulis.
4.1. BAHASA TANPA SUARA
Dapatkah bahasa ada dalam pikiran kita tanpa bicara? dapatkah tanpa suara bahasa menjadi bahasa isyarat yang akurat? Sebagai pertanyaan mungkin aneh, ada alasan yang baik untuk psikolinguistik meminta mereka, untuk penyelidikan pertanyaan akan terbukti cukup mengungkapkan sehubungan dengan sifat psikologis bahasa dan media sensorik yang dapat diperoleh. Selanjutnya, dalam pembahasan tersebut beberapa isu kontroversial akan muncul, isu yang penting praktis yang besar bagi orang-orang tuli dalam beromunikasi dan pendidikan. Ini akan menjadi jelas bahwa, tanpa landasan yang kuat dalam konsep psikolinguistik,upaya-upaya untuk menangani dengan bijaksana seperti masalah bahasa praktis akan menghasilkan kebingungan.
4.2. BAHASA TANPA BICARA
Sekarang sebagian besar dari kita memiliki kesempatan untuk mengalami bahasa isyarat. walaupun hanya untuk melihat dari layar TV kita. Di sana kita bisa melihat orang menerjemahkan pidato ke tanda untuk kepentingan pemirsa yang tuli dan tuna rungu. Anda mungkin bertanya-tanya, dan cukup dibenarkan, apakah tanda-tanda yang benar-benar merupakan bagian dari bahasa atau hanya kumpulan gerakan yang tidak memiliki kecanggihan dari bahasa didasarkan pada pembicaraan.
Bagaimana kita bisa menilai apakah orang-orang yang menggunakan 'bahasa isyarat' benar-benar memiliki bahasa, sementara beberapa mungkin mencoba untuk menyajikan sebuah upaya  panjang tentang sifat bahasa dan kemudian menggunakannya sebagai kriteria, aku lebih ingin menawarkan sederhana, dan, saya percaya , lebih efektif, kriteria. Bisakah kita tidak setuju bahwa seseorang memiliki bahasa jika seseorang yang dapat berkomunikasi dengan menandatangani apapun yang dapat dikomunikasikan dengan pidato? ini tampaknya wajar karena kita semua bisa sepakat bahwa orang yang disampaikan dalam pidato yang memiliki bahasa. Tentu saja, kriteria ini harus memungkinkan untuk berbeda dalam sarana fisik komunikasi: penandatanganan daripada berbicara. Ini bukan konsesi penting, karena, sama seperti kita menganggap tindakan fisik memproduksi dan mendengar pidato sebagai berbeda dalam beberapa cara dari bahasa (yang ada dalam pikiran kita), demikian juga kita dapat menganggap memproduksi dan melihat tanda-tanda sebagai sama berbeda dari bahasa. Bahasa, tentu saja, tidak tergantung pada beberapa modus fisik untuk akuisisi dan penggunaan, tetapi titik di sini adalah bahwa modus tidak perlu dibatasi untuk suara. Bahkan sentuh dapat digunakan sebagai modus dengan orang yang sama-sama tuli dan buta (menurut Helen keller).Seperti komunikasi mengungkapkan berbagai fungsi semantik kompleks dan hubungan (pertanyaan, kondisional, waktu, dll) dan melibatkan sejumlah acara dan situasi, tidak ada yang, cukup menarik, telah terjadi. (Sesuai dengan kalimat: cuaca tidak baik, paman tidak datang untuk memberikan Mary uang, dan Mary tidak membeli stereo) orang yang dapat menghasilkan dan memahami komunikasi seperti ini, meskipun mereka melalui tanda agak pidato , pasti cukup dapat dikatakan memiliki bahasa.
Nah, penelitian ini menunjukkan bahwa pembicara dari bahasa isyarat seperti American Sign Language, Bahasa Isyarat Perancis, Bahasa Isyarat Inggris, dan lain-lain tertentu memang bisa berkomunikasi dalam tanda apa pun yang diungkapkan dalam berkomunikasi. Namun, ini tidak mungkin benar meskipun bahasa isyarat lain yang tidak lengkap sintaksis atau terbatas dalam hal kosakata. Bahasa isyarat lengkap biasanya ditemukan di negara-negara berkembang, meskipun dalam bahkan beberapa negara maju, bahasa isyarat dapat menderita kekurangan. Di Jepang, misalnya di mana pemerintah nasional melarang pengajaran dan penggunaan bahasa isyarat di sekolah umum, standardisasi dan kosakata adalah masalah.
Kembali ke kriteria bahasa tidak hanya dapat penandatangan fasih bahasa isyarat lengkap seperti American Sign Language (ASL) tanda apapun pembicara bisa mengatakan, tapi penandatangan berkomunikasi dengan kecepatan yang sama sebagai pembicara tidak. Kecepatan di mana penandatangan menghasilkan kalimat-kalimat (lebih tepatnya proposisi yang menggaris bawahi kalimat) dalam percakapan tanda cenderung sama di mana speaker menghasilkan kalimat-kalimat dalam percakapan pidato. Hal ini terjadi meskipun penandatangan, seperti halnya seorang pembicara, memiliki kemampuan untuk melebihi kecepatan ini. Tampaknya ada kecepatan yang optimal di mana manusia dapat nyaman untuk memproses informasi bahasa., Apakah informasi yang berupa pembicaraan atau tanda.
Sebelum mempertimbangkan esensi bahasa isyarat  ini akan berguna, dan menarik untuk memeriksa sarana terkait komunikasi yang digunakan oleh mendengar gerakan orang. Meskipun gerakan mungkin rumit, mereka hanyalah mengkoleksi tanda dan tidak membentuk bahasa yang benar tidak ada tata bahasa dengan gerakan yang dapat dikombinasikan untuk membentuk setara dengan kalimat, kecuali dari jenis yang paling dasar ('Anda datang', saya lapar '). Namun demikian, mereka memainkan peranan penting dalam komunikasi baik dalam hubungannya dengan pidato dan sebagai alternatif untuk berbicara.

4.3 Gerakan dan Tanda-tanda
4.3.1 Gerakan  tanpa bicara
Orang-orang menggunakan berbagai gerakan tubuh untuk menyampaikan pesan. Sebagaian besar gerakan melibatkan wajah dan tangan, meskipun postur tubuh juga sangat penting. Contoh: salam (halo, selamat tinggal - dengan menggerakkan tangan dan lengan), meminta dan memerintah (datang, pergi, berhenti-dengan memindahkan tangan ), menghina (mengeluarkan lidah bagi  anak-anak, pengibaran yang jari  tengah oleh orang dewasa), menjawab (ya, tidak, saya tidak tahu-dengan menggerakkan kepala), mengevaluasi (baik / sempurna - dengan membuat lingkaran dengan ibu jari dan jari telunjuk, dan kemenangan / keberhasilan-dengan membuat  tanda V); menggambarkan  (tinggi, pendek, panjang - dengan menggunakan lengan dan tangan ), merujuk (diri sendiri, yang lain, yang  ini, yang itu- dengan ujung jari) dan memarahi (wajah cemberut), ini hanyalah  beberapa kategori  gerakan yang banyak digunakan untuk berkomunikasi secara langsung tanpa berbicara.
Beberapa gerakan yang hampir menyeluruh, seperti mengerakkan  tangan atau lengan untuk menunjukkan 'datang' (Amerika membuat gerakan menyapu lengan dari siku ke arah tubuh mereka sendiri dengan tangan sedikit dipegang dalam posisi vertikal, sementara Jepang menggerakkan sedikit tangan mereka dengan telapak menghadap ke bawah dan lengan mereka terentang horizontal) atau dalam menunjuk ke tubuh seseorang untuk menunjukkan 'diri’ ( untuk Amerika mereka menunjuk dada mereka, sementara Cina menunjuk hidung mereka ). Bagaimanapun banyaknya gerakan adalah khusus untuk daerah budaya, linguistik atau geografis. Thuns Sri Lankas dengan menggelengkan kepala mereka sementara untuk menunjukkan 'ya' atau 'kesepakatan' bagi mereka, menunjukkan 'tidak' atau 'tidak setuju' untuk  penutur bahasa Inggris. (Saya pernah menjadi penasehat siswa MA dari Sri Lanka,  meskipun saya tahu bahwa dia gemetar dan dari kepalanya  ditandai sedikit kesepakatan  apa pun  yang saya katakan, saya tidak pernah bisa terbiasa untuk itu). Dan, sementara di Jepang jari telunjuk mereka menempel ke atas kepala mereka untuk menunjukkan  seseorang  'marah', seseorang dari Perancis mengunjungi Jepang, mungkin untuk mencari makna, menafsirkan gerakan itu sebagai indikasi 'cuckold', setelah ekspresi bahasa Perancis  'menggunakan terompet dari tanduk'.
Di mana-mana gerakan wajah khusus digunakan  untuk ekspresi berbagai emosi dan perasaan. Sebenarnya kita tidak perlu mengucapkan kata 'saya ...... (Senang, terkejut, jijik, kecewa, senang, marah, dll) ketika kita memiliki non-verbal repertoar luar biasa mudah untuk rol mata kita putus asa, kontrak alis kita terkejut  dan angkuh menaikkan alis kita (dari mana, ngomong-ngomong, kita mendapatkan jenis lain kata angkuh , mengangkat alis dari bahasa latin artinya 'congkak’). Keengganan, kebingungan, perhatian, cinta, jengkel, kejutan , agresif, diragukan, kebodohan, disampaikan oleh kombinasi berbagai ekspresi wajah, gerakan tangan dan postur tubuh.
4.3.2 Gerakan  dengan cara bicara
Meskipun besar jumlah gerakan yang tersedia untuk digunakan, jelas bahwa sebagian besar memberi isyarat bahwa gerakan-gerakan  terlibat dalam berkomunikasi ketika dikoordinasikan dengan cara bicara. Sementara beberapa dari gerakan tersebut memiliki fungsi tanda ikonik yaitu dapat digunakan dengan sendirinya untuk menyampaikan makna lain. Sebuah contoh mengalahkan, di mana satu tangan atau jari disimpan dalam gerak dan sesuai dengan  apa yang orang katakan.
Ketukan  yang  langsung dari dalam dan tidak berubah dengan isi kalimat. Dalam membuat ketukan, orang akan menggerakkan tangan mereka ke atas dan ke bawah atau maju mundur. Hal ini cenderung disampaikan dengan bahasa tubuh, seperti untuk sisi marah, bukan di pusat menyinggung. Tujuan dari ketukan, menurut McNeill dalam analisisnya pengertin dari gerakan, pada dasarnya untuk menekankan fungsi wacana dengan bicara bersamaan. Ketukan  tidak menambah isi deskripsi atau cerita melainkan berfungsi untuk menekankan pengenalan karakter baru , pengaturan adegan, yang menjamin beberapa peristiwa, dan sejenisnya. Mc Neill menyajikan contoh kasus berikut, Seseorang (A) telah ditunjukkan film dan diminta untuk membicarakan teman wanitanya, dan mengatakan 'teman wanitanya ' dia membuat sebuah ketukan . A kemudian mengatakan bahwa nama depannya adalah Alice , saat ia mengatakan 'Alice' ia membuat ketukan yang lain. A kemudian melanjutkan dengan mengatakan bahwa nama keluarganya adalah Putih , saat ia mengatakan 'putih', ia membuat ketukan yang lain. Dari  ketukan yang dibuat  sedikit sukses dari narasi, satu ketuk untuk informasi baru. Namun, perlu dicatat bahwa, mungkin  banyak  ketukan yang  dilakukan untuk satu kalimat dan bahwa informasi baru tidak selalu terlibat. Misalnya, McNeill menggambarkan salah satuanak berusia 5 tahun , diminta menanggapi sesuatu, Ini sesuatu yang lain 'Ketika ia mengatakan hal ini tangan anak bangkit dan turun tiga kali pada sandaran tangan dari kursi dia duduk , bahkan anak-anak mendapatkan  gerakan yang cukup awal menyertai bicara bahasa mereka.
Selain ketukan, orang membuat jenis lain, mungkin lebih penting dari gerakan bersama sedikit pun berbicara. Ini adalah gerakan ikon atau konten yang menurut Mc Neill dan penelitian colleangues nya ', hanya sekali terjadi dalam setiap klausa. Gerakan tersebut menempati ruang gerakan pusat dan dapat menambah atau membuat lebih eksplisit dari beberapa bagian deskripsi atau alur cerita. Jadi, misalnya, ketika orang diminta untuk menggambarkan sesuatu yang mereka lihat dan mereka mengucapkan kalimat seperti 'Dia mencoba untuk naik bagian dalam pipa pembuangan' dan 'Dia akan naik melalui pipa saat ini', dalam kedua kasus speaker membuat gerakan ke atas, baik dengan jari atau tangan. Gerakan ini dibuat dari bagian penting  kalimat (dicetak miring) sedang diucapkan. Membuat catatan dari apa yang dilakukan orang ketika mereka berbicara, seperti produksi mereka ikon dan gerakan  yang mereka buat, bisa menjadi hobi yang sangat menarik. Anda akan terkejut dengan apa yang Anda pelajari, jika Anda dapat menahan dorongan untuk tersenyum atau tertawa keras-keras.
4.4 Sign ( Tanda ) Bahasa
4.4.1 Jenis-jenis bahasa isyarat
Penggunaan bahasa isyarat tangan , wajah atau gerakan tubuh lainnya dalam ruang tiga dimensi sebagai sarana fisik komunikasi. Pada prinsipnya, ada dua jenis bahasa isyarat dan ini berbeda,  apakah tanda atau tidak mewakili tanda biasa (berbicara-based) bahasa. Dengan demikian, ada bahasa isyarat yang kata biasa (meskipun tanda) dan ketertiban mereka saat mereka muncul dalam bahasa biasa, seperti Swedia, Inggris dan Perancis, dan ada bahasa isyarat seperti American Sign Language dan British Sign Language yang memiliki kata-kata mereka sendiri dan sistem tata bahasa untuk generasi kalimat.
4.4.2 Sign ( tanda ) bahasa mewakili ejaan atau bicara
Sign bahasa berdasarkan bahasa sehari dapat dari dua jenis yang berbeda. Salah satu jenis seperti mewakili kata dengan ejaan mereka dalam hal tanda individu, di mana tanda masing-masing mewakili kedua alfabet. Tangan dan jari konfigurasi yang digunakan untuk menunjukkan bagian akhir, seperti membuat V dengan jari telunjuk dan jari tengah atau O sedikit pun ibu jari dan jari telunjuk. Dengan demikian, kata cukup ditandai huruf demi huruf , e, n, o, u, g, dan h, mengikuti ejaan bahasa Inggris. Kata-kata dan kalimat seluruh dikomunikasikan dalam metode huruf demi huruf. Urutan huruf  persis yang terjadi dalam penulisan bahasa biasa.
Ada  satu tangan atau dua tangan untuk sistem ejaan jari . misalnya Amerika dan Swedia, menggunakan satu tangan, sedangkanInggris  menggunakan dua . Pengguna kedua sistem  relatif cepat, tetapi  prosesnya  agak sulit. Sistem dua tangan lebih cepat dan memberikan huruf  lebih mudah terindentifikasi tetapi tidak memungkinkan tangan bebas untuk keperluan lainnya. Hanya beberapa sekolah tuli (seperti Sekolah Rochester di Amerika) bergantung sepenuhnya pada ejaan jari untuk mengekspresikan semua komunikasi. (Kalimat 'Anak batuk' dinyatakan sebagai rangkaian tanda surat individu: t, h, e, b, o, y, c, o, u, g, h, e, dan d). Meskipun tangan penanda semua sistem,  harus belajar untuk menggunakan ejaan jari karena kata benda paling mirip Manila, Caroline dan Kensington, tidak memiliki tanda individu khusus mereka sendiri . Kata benda seperti abu, harus dieja jari. Lebih populer daripada Metode Rocherster ejaan jari adalah jenis languange tanda yang menggunakan tanda keseluruhan untuk setiap kata pembicaraan atau bagian kata yang bermakna (n: orpheme). Untuk 'batuk-batuk', misalnya, akan ada satu tanda keseluruhan untuk 'Chough', dan satu lagi untuk bentuk lampau. Melihat bahasa Inggris Esensial dan Penandaan tangan  bahasa Inggris Exact khas dari sistem tanda tersebut. Ini sistem languange,  karena ingin nama, saya sebut Penandaan tangan Bahasa Ordnary (SOL). Mengikuti tanda-tanda aliran linear yang tepat dari kata-kata yang diucapkan.
Sebuah sistem SOL memiliki kelebihan penting tertentu untuk pelajar. Dengan belajar itu, tidak hanya orang  tersebut akan dapat berkomunikasi dengan orang cacat pendengaran  (yang tahu sistem) tetapi pelajar akan memiliki pengetahuan tentang sintaks dan kosakata dari bahasa biasa juga. Bahasa biasa maka akan tidak harus dipelajari sebagai bahasa kedua (sejauh kosakata dan systax  yang bersangkutan) oleh orang-orang yang bahasa ibunya adalah bahasa isyarat yang independen. Untuk alasan yang sama, juga belajar membaca tidak akan sesulit. Selain itu, sistem SOL memiliki keuntungan menjadi lebih mudah bagi orang untuk mendengar daripada bahasa isyarat independen sejak SOL didasarkan pada tata bahasa yang orang sudah tahu pendengaran melalui berbicara. Ini adalah khususnya  kepada orang tua anak-anak tuli yang secara alami ingin membangun sarana untuk berkomunikasi dengan anak-anak mereka secepat mungkin. Kebanyakan anak tuli, perlu dicatat dalam hal ini, yang lahir dari orang tua mendengar. Meskipun banyak keuntungan, SOL  memiliki satu masalah  serius, yang mungkin berakibat fatal. Umumnya orang tuli tidak menyukainya. Mereka merasa lebih rumit dan kurang alami untuk digunakan daripada bahasa isyarat yang telah berkembang melalui penggunaan yang luas dalam komunitas tuna rungu.


4.4.3 Bahasa Isyarat Independen (SL)
Beberapa karakteristik SL
Tanda dari bahasa isyarat yang independen dari bahasa berbicara-based (selanjutnya, SL) dapat dipecah menjadi tiga komponen dasar: I dan konfigurasi, bagaimana tangan terbentuk, tempat artikulasi, di mana tangan terbentuk, dan gerakan, bagaimana bergerak tangan. Pada tingkat kata dari bahasa biasa, tidak ada  satu kata yang berbeda dalam arti sepenuhnya dari satu sama lain, tetapi juga kata-kata yang sangat berhubungan, hanya berbeda dalam morfologi, atau bentuk suara mereka. Misalnya, dalam bahasa Inggris dari kata 'membandingkan', kata-kata seperti 'dibandingkan', 'membandingkan', 'membandingkan' dan 'perbandingan' berasal. Perubahan morfologi tersebut juga memiliki setara dalam SL. Mengatur pergerakan tanda dengan mengubah kecepatan atau ketegangan atau tingkat pengulangan, memberikan n SL kemampuan untuk mengarahkan nomina dari verba, seperti 'pembanding' dari 'membandingkan', serta menghasilkan derivasi yang unik untuk SL. Misalnya, di ASL tanda untuk 'gereja', 'saleh', dan 'berpikiran sempit' (!) Hanya berbeda dalam cara gerakan yang terlibat. Kemudian, froms uninflected  ada tanda yang dapat didefinisikan oleh fitur tempat, konfigurasi dan gerakan, dengan variasi gerakan menyediakan sarana untuk variasi morfologi dan perubahan aspek. Kata SL dan morfem yang dibuat  dalam banyak cara yang sama seperti kata-kata yang diucapkan sehingga memberikan variasi dalam kelas tata bahasa dan makna. Hanya bagaimana tanda cenderung dibuat ketika comaparing ASL mengatakan, Sign Bahasa Cina (CSL), tidak terduga kita menemukan  yang tidak hanya merupakan tanda sendiri sama sekali berbeda, tetapi  bahwa ASL menggunakan konfigurasi tangan sedikit lebih terjepit, dengan jari-jari keriting bawah, tinju seperti, ke telapak tangan, jauh lebih daripada di CSL. Jika seorang penyanyi dari CSL belajar untuk menandai tangan semua fitur  dengan  ASL  yang benar artikulasi yang disebutkan di atas, namun tetapnya atau konfigurasi tangannya dalam mode CSL kurang terjepit, hasilnya akan dimengerti dengan penandatangan ASL, namun akan ada sesuatu yang berbeda tentang hal itu. Ini akan menjadi setara dengan bahasa isyarat untuk berbicara dengan aksen asing!
Ini  mungkin menjadi tempat yang baik untuk menekankan bahwa, bertentangan dengan harapan umum, tidak ada bahasa isyarat universal. Ada perbedaan dialektika bahkan kuat dalam bahasa. Ada perbedaan dialektika kesulitan yang kuat dalam memahami penandaan tangan dari Lyon, dan sebaliknya. Anda mungkin akan terkejut untuk mengetahui juga, bahwa bahasa isyarat Amerika dan Bahasa Isyarat Inggris  tidak saling dipahami. American Sign Language sebenarnya memiliki lebih banyak kesamaan dengan Bahasa Isyarat Perancis dibandingkan dengan Bahasa Isyarat Inggris karena (ASL) berasal dari Bahasa Isyarat Perancis pada abad kesembilan belas. Daftar bahasa, seperti bicara berbasis bahasa, memiliki asal-usul mereka sendiri bersejarah di seluruh dunia dan mengembangkan sepanjang garis masing-masing.
Sintaks dari bahasa isyarat
Dalam bahasa diam, kata indivisual terstruktur bersama-sama menjadi kalimat menurut aturan sintaksis, jantung tata bahasa. SL juga memiliki aturan yang mengatur hubungan antara tanda individu dalam sebuah kalimat. Sementara kata-kata dan morfem dari kalimat dalam bahasa seperti bahasa Inggris tepat  ditandai dengan tangan di udara pada semacam khayalan papan dua dimensi , dengan  kata-kata (dan morfem) urutan linier, kalimat SL secara radikal berbeda. Urutan Mereka tidak  linier tapi reaksi tiga dimensi . Seperti ruang memungkinkan untuk kombinasi makna dan campuran simultan dari sejumlah elemen berarti yang tidak dapat diproduksi secara linear. Akibatnya, kalimat ditandai dapat diproduksi dengan cepat . Pengindeksan yang tepat atau pembagian ruang sangat penting untuk memproduksi kalimat gramatikal di SL. Sebagai contoh, kata benda, kata ganti, dan kata kerja harus diberikan poin dalam ruang pembicara. Titik-titik ini harus dibedakan seluruh kalimat dan tetap sebagai titik acuan sehingga hubungan komponen dari kalimat, subjek frasa nomina, verba, dan obyek frase nomina, yang terkait satu sama lain dengan cara yang koheren. Daerah di depan dada pembicara adalah bidang di mana referensi  bisa ganti menandai  'dia' atau 'dia' dibiarkan menggantung seolah-olah di angkasa  dan disebut kembali sebagai 'pronomina relatif'. Gerakan verba mengikuti dari titik ke titik, awal dan titik akhir yang menunjukkan subyek dan hubungan-hubungan objek. Variasi gerakan dapat terjadi  untuk menunjukkan waktu dan aspek, dan ruang dapat dibangun dalam ruang-ruang untuk menanamkan satu kalimat, untuk kontras satu peristiwa dengan yang lain atau untuk mengacu pada sesuatu ke masa yang  jauh. Pelanggaran terhadap aturan yang mengatur hubungan antara tanda-tanda akan menyebabkan kebingungan, dengan terjadinya kalimat buruk terbentuk dan ambigu, sangat mirip dengan apa yang terjadi dalam pidato ketika aturan tata bahasa yang rusak. Paralel antara penguasaan bahasa melalui bicara dan bahasa isyarat yang sangat mencolok. Dalam memperoleh SL sebagai bahasa pertama, anak-anak tuli melewati tahap perpindahan  bahasa yang mirip dengan pendengaran anak. Penandaan tangan mereka berjalan melalui tahap tunggal tanda dan bahkan tahap telegraf tanda tidak termasuk sederhana. Namun, ada masalah linguistik, yang harus dihadapi dan diatasi anak-anak tuli, yang unik untuk SL, seperti pengindeksan ruang  yang tepat. Sementara penandaan tangan muda pada usia 3 belum sepenuhnya dibedakan dengan ruang penandaan tangan mereka dengan benar, hal ini juga telah dilakukan pada usia 5 tahun. Bahwa semua usia ini adalah hal penting dari sistem bahasa formal akan diperoleh.

4.5 Tanda Bahasa  dalam Perjuangan Pendidikan Tuli
4.5.I  SL Keluar dari ketertutupan dan masuk dalam kehormatan
AS baru-baru ini tahun 1970-an beberapa teori menyangkal bahwa signLanguage bisa menjadi bahasa asli. Penyangkalan ilmiah tersebut mencerminkan bias suatu pendapat, juga banyak  orang mendengar. Banyak  bias terbaru terhadap SL berasal dari pemahaman yang buruk tentang sifat bahasa. Sampai revolusi dari Mentalist dalam linguistik dan psikologi, yang dipelopori oleh Chomsky pada tahun 1960, Bahasa umumnya disamakan dengan bicara dalam konsep behaviouristic . Dengan munculnya Mentalist, bahasa mulai secara luas dianggap sebagai semacam pengetahuan dalam pikiran yang berhubungan  tetapi tidak tergantung dari manifestasi fisik dalam bicara. Seperti pemisahan konseptual hanya Apa yang menandai tangan peneliti bahasa yang diperlukan untuk mengejar investigasi mereka ke SL. Merekan kemudian mampu merumuskan tata bahasa SL abstrak bagi pikiran, tata bahasa mental yang mirip, pada intinya mereka meyakini bahwa orang-orang yang bermasalah dengan pendengaran memiliki kemampuan. Kepercayaan yang kuat dipegang olehbanyak  pendidik tuli dan masyarakat umum bahwa bicara itu diperlukan bagi seseorang untuk menjadi manusia bisa ditantang. Signery sekarang bisa, seperti speaker, akan dikatakan memiliki bahasa, meskipun mereka tidak memiliki tawaran berbicara. Berbicara tidak  bisa dianggap sebagai perbedaan karakteristik bahasa manusia. Perubahan Strad slowely pada 1970-an segera mengumpulkan Momentum dan pada pertengahan tahun 1970-an para pendukung SL mulai berhasil. Segera SL secara aktif diajarkan di sejumlah besar sekolah untuk orang tuli di AS, Swedia, dan negara-negara lainnya.
Selama periode yang sama, dengan memberikan dorongan untuk SL masyarakat tuli keluar dari ketertutupan, untuk berbicara. Signers mulai mendapatkan kepercayaan diri dan kebanggaan untuk mengkomunikasikan perasaan tersebut kepada masyarakat luas. Tidak lagi melakukan tuli SL dan teman-teman mereka mendengar dan kerabat merasa malu seperti dulu.
 Ketika 20 tahun lalu aktris Louise Fletcher [orang hoaring] membuat pidato penerimaannya untuk Academy Award untuk perannya dalam film One Flew Over  The Cuckoo’s, cukup gempar ketika dia secara bersamaan ditafsirkan berbicara sendiri ke ASL untuk manfaat dari ibunya tuli dan ayah yang pekerja program TV, pertemuan dan acara khusus dengan interpreter simultan hadir untuk kepentingan orang tuli. Masalah orang tuli dan pendidikan tuli bahkan menjadi tema utama dalam film lain yang terkenal. Film ini juga berfungsi untuk menghilangkan beberapa kesalahpahaman yang dimiliki oleh publik. Kemudian, hanya beberapa tahun kemuadian , sebuah insiden terjadi yang juga bertugas di tingkat yang sama untuk membuat masyarakat lebih sadar pendengaran orang tuli dan SL.
            Seorang wanita yang bermasalah dengan pendengaran diangkat dekan di perguruan tinggi hanya dari Amerika untuk College, tuli Gallaudet di Washington, DS. Karena dia tidak bisa berkomunikasi di ASL-bahasa yang digunakan secara umum oleh mahasiswa dan fakultas di kampus siswa mulai protes, yang dilaporkan pada semua jaringan berita utama. Ini publisitas, dan simpati berikutnya untuk tujuan dari mahasiswa, memaksa direktur universitas untuk mundur dan menunjuk seorang dekan yang bilingual di lisan bahasa Inggris dan ASL. Disebutkan bahwa siapa Thomas Gallaudet [1787-1851], setelah selesai dari perguruan ternama, memberikan kontribusi signifikan ke Amerika setelah studi di Perancis.
            Bahasa isyarat SL telah menjadi begitu luas bahwa kebanyakan orang di komunitas tuna rungu di negara-negara Amerika dan Kanada sekarang menggunakan ASL dalam berkomunikasi dengan satu sama lain. SL memungkinkan mereka untuk berkomunikasi dengan cara yang sangat efisien dengan cara yang paling menyenangkan untuk mereka. Bahkan di Jepang di mana bahasa isyarat apapun dilarang di sekolah-sekolah umum, orang tuli berhasil belajar SL Jepang di luar sekolah biasa. Seringkali  departemen kesejahteraan sosial kota  menawarkan kursus SL. SL telah alami menjadi bagian dari komunitas tuli meskipun oposisi pemerintah nasional untuk itu Bahkan di sekolah untuk tuna rungu di Hiroshima di mana bahasa isyarat dilarang,. saya melihat siswa menndai satu sama lain ketika mereka guru mereka tidak melihat. Sebenarnya, karena ucapan dan kemampuan menulis mereka yang minim, tidak ada cara lain yang efektif bagi mereka untuk berkomunikasi dengan satu sama lain. Tidak ada orang berhenti dari belajar SL dari orang lain jikan mereka ingin berkomunikasi.
Bagaimana orang-orang tuli yang berkomunikasi dengan anggota komunitas pendengaran dominan adalah masalah yang berbeda, dan tetap begitu. Pembatasan hal tidak mungkin bahwa orang-orang yang mendengar akan belajar SL dalam skala besar, maka perlu untuk tuna rungu mendapatkan beberapa sarana komunikasi dengan mendengar orang. Dalam hal ini dua pendekatan utama yang tersedia. Salah satunya adalah Pendekatan Oral tradisional. Yang lain, sedikit diketahui, adalah Pendekatan Bahasa Tertulis.
4.6 Pendekatan Oral
Disamping Masyarakat umum, bahwa orang SL telah berjuang dengan pengakuan selama bertahun-tahun dengan baik, ini telah menjadi pendukung pengajaran berbicara, umumnya disebut Pendekatan Oral. Pendekatan Oral memiliki tujuan yang layak, untuk mengajar sidang - gangguan untuk memproduksi dan memahami pidato sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan komunitas pendengaran. Sayangnya, historis, para pendukungnya, yang menguasai pendidikan di sekolah-sekolah, menganjurkan penggunaan pidato dengan mengesampingkan setiap sarana komunikasi lainnya. Penggunaan SL itu dilarang bahkan untuk komunikasi antara orang-orang tuli. Sementara pendukung Pendekatan Oral, seperti Daniel Ling dan Ewings, bahkan mungkin mengakui bahwa bahasa isyarat merupakan bahasa, mereka berpendapat bahwa tidak hanya  pembelajaran dan penggunaan bahasa isyarat negatif mempengaruhi perolehan suara tetapi tanpa berbicara akan ada cacat berpikir. [Ajaran membaca dan bahasa tertulis yang diserang karena alasan yang sama, itulah sebabnya mengapa pengajaran membaca di sekolah tuli begitu banyak. Ditunda sampai anak berada di luar kelas kedua atau ketiga ini perdebatan, tidak ada  yang memiliki dasar dalam pengamatan empiris atau teori psikolinguistik  adalah palsu. Jika  pengetahuan SL dan membaca memfasilitasi akuisisi berbicara. Dan, sejauh pemikiran yang bersangkutan, orang tuli tanpa bicara ditemukan untuk menguji hampir sama tinggi dalam kecerdasan sebagai mendengar orang. Sangat disayangkan bahwa ide-ide yang keliru seperti ini terus diadakan di begitu banyak tempat.
          Pendekatan Oral berfokus pada pengajaran produksi ujaran. Anak-anak dari usia 2 atau 3 tahun  secara khusus dilatih dalam keterampilan mengartikulasikan suara berbicara. Juga, tidak jarang saat ini memiliki beberapa peralatan komputer yang menampilkan suara dan membantu dalam pengajaran. Peralatan yang menampilkan suara dan membantu dalam pengajaran. Banyak anak merespon dan tidak memperoleh kemampuan yang adil untuk berbicara. Untuk sebagian besar adalah anak-anak yang hanya memiliki gangguan pendengaran moderat. Mereka yang memiliki gangguan mendalam biasanya melakukanya dengan buruk.
          Pemahaman pidato biasanya dipupuk melalui kedua memanfaatkan setiap sisa pendengaran peserta didik dapat memiliki dan pengajaran 'speechreading', umumnya dikenal sebagai membaca 'Dengan speechreading., Orang yang mahir dapat menafsirkan sekitar setengah dari apa yang dikatakan, yang, mengingat jumlah besar redundansi dalam pidato biasa, sudah cukup untuk menebak sebagian besar konten. Suara Banyak, Namun, sangat sulit untuk membedakan secara visual, ini termasuk vokal kebanyakan, 'misalnya' a ',' e ',' u ',' aku ', dan konsonan banyak seperti' k ',' g ',' l ',' r ',' s ',' sh ',' ch ', dan' j 'Selain itu., dalam bahasa tertentu, seperti Jepang, yang memperlihatkan bibir yang relatif sedikit dan gerakan wajah, artikulasi berbicara sangat sulit untuk ditangani.
          Seperti yang telah disebutkan di atas, masalah besar dengan Pendekatan Oral adalah cenderung hanya bekerja untuk sebagian dari populasi cacat pendengaran. Penelitian menunjukkan, unsurpris-ingly, bahwa orang-orang lees dapat mendengar, lees mereka akan mampu menghasilkan dan memahami dalam hal spceeh. Anak relatif sedikit yang lahir dengan gangguan pendengaran berat atau mendalam [lebih dari 75 atau 80 desibel di telinga mereka lebih baik] memperoleh setiap tingkat berbicara yang signifikan. Bahkan mereka dengan gangguan pendengaran yang lebih rendah sering tidak memperoleh pengucapan cukup jelas sehingga mereka dipahami oleh orang pendengaran biasa. Sebagai hasil dari pendidikan Pendekatan murni Oral, banyak orang cacat pendengaran dalam kemasyarakatan tetapi tidak dapat memadai berkomunikasi dengan rekan-rekan mereka yang sama-sama cacat pendengaran. Itu situasi tragis yang berlanjut di banyak tempat saat ini, yang meyakinkan banyak pendidik orang tuli, bahwa program pendidikan harus mencakup bahasa isyarat dalam kurikulum mereka bersama dengan berkomunikasi. Program-program ini umumnya dikenal dengan nama Komunikasi Total, tersebar di tahun 1970-an di Amerika Serikat, Kanada dan Komunikasi Jumlah negara lainnya . kemudian kini diterima secara luas di banyak negara, bagaimanapun, masih ada resistensi yang besar [seperti di Jepang] untuk mengakui bahasa  isyarat  ke dalam kurikulum pendidikan untuk sidang-impainred.
4.7 Pendekatan Bahasa Tulis
4.7.1Pentingnya melihat huruf dan pentingnya  pendekatan
Walau jumlah komunikasi tuli telah ditingkatkan seluruhnya  pada satu cara berpengaruh nyata dengan menyediakan bahasa isyarat sebagai suara tambahan untuk melatih, satu masalah bidang pendidikan lain  adalah melihat  huruf. Rata-rata orang masih berpendengaran lemah ( setelah peristiwa sebanya komunikasi Pendidikan melulus dari sekolah menengah dengan satu padanan taraf bacaan hanyalah ke tersebut satu anak dengar di susun 5 sekolah dasar. (kemampuan penulisan mereka adalah lebih miskin). Ini adalah benar untuk kita, Jepang dan negara berkembang lainnya bahkan lebih rendah.  Masalahnya adalah bahwa baca-tulis  bergantung pada pengetahuan dari suara biasa mendasari bahasa, kita mempergunakan pengetahuan kita dari bahasa biasa keduanya untuk memahami apa kita membaca dan untuk menghasilkan apa yang kita tulis. sejak orang berpendengaran lemah pengetahuan dari suara mendasari bahasa biasanya sangat terbatas, kemampuan dari orang itu untuk memperoleh melihat huruf  berlandaskan pengetahuan yang sama dengan cara terbatas.
            Mengingat kebutuhan yang luar biasa  untuk bisa bacaan dan menulis agar berfungsi baik di masyarakat modern, tidak mengherankan bahwa kita menemukan kebanyakan orang  berpendengaran lemah mampu hanya taraf rendah,  satu taraf  penting adalah melihat huruf, bermanfaat bagi pendekatan bahasa tulisan.
            Ide penting dari pendekatan ini adalah menulis sepenuhnya  dari satu bentuk suara biasa mendasari.  Seperti bahasa  inggris atau bahasa spanyol (ini dijelaskan, frasa dan kalimat) diperoleh melalui asosiasi langsung dengan objek, peristiwa dan situasi pada lingkungan. Dengan demikian, sama halnya dengan anak-anak mempelajari bahasa oleh awalnya menghubungkan bunyi suara yang mereka dengar dengan pengalaman lingkungan, heariing merusak anak-anak dapat mempelajari bahasa pada satu  cara, tapi melalui satu asosiasi dengan bentuk tertulis dengan pengalaman lingkungan. sebagai hasil, anak-anak berpendengaran lemah akan memperoleh sebenarnya kosa kata yang sama dan sintaksis dari bahasa seperti inggris, Denmark atau Cina, hampir semua kosa kata dan struktur sintaksis yang tampak di suara juga tampak dalam tulisan. e. g hubungan katakerja subyek, menolak hubungan kata kerja, peniadaan, pertanyaan, formasi anak kalimat pasif.
           
Bukan  untuk mengatakan tidak ada perbedaan di suara dan penulisan. sebenarnya, meskipun demikian, satu pengetahuan dasar mendasari bnetuk keduanya dari ekspresi, karena hampir apapun kalimat atau ide yang dapat diekspresikan di suara dapat diekspresikan dalam tulisan, kita dapat berkata, oleh analogi, itu bahasa tulisan dapat dipengaruhi sebagai satu bahasa lengkap. Utama perbedaan ini dengan suara memprihatin berarti fisik dari transmisi menulis cahaya, sementara suara melibatkan bunyi.
4.7. 2 Perspektif sejarah
            Sebenarnya, ide  yang saya ajukan di sini  tidak  baru. selanjutnya, mereka memiliki  riwayat luar biasa walau sedikit  Pendidikan tuli  sadar akan mereka. ketika pertama sekali saya menyusun ide ini, saya  sungguh-sungguh percaya bahwa mereka adalah asli dengan saya. Itu hanya setelah dengan sukses asli pelengkap meneliti dengan anak-anak tuli Amerika dan Jepang menggunakan pendekatan ini, apakah  menemukan bahwa seratus tahun lalu  tidak lain adalah Alexander Graham Bell telah mengajari bahasa tulisan untuk  anak usia 5 tahun dengan suatu kesuksesan dan itu 200 tahun sebelum seorang  pemikir dengan nama Dalgarno  pada tahun 1680, dirumuskan pendekatan yang sama.  Bell sangat menyadari   konsepsinya dalgano pada 1883 untuk dinyatakan oleh Bell. Saya  meyakini bahwa George Dalgarno, telah memberikan  prinsip benar untuk kita mengerjakan pada saat ketika dia menyatakan bahwa satu orang tuli harus diajari untuk membaca dan memberi suara dengan menulis nama sebisa mungkin dengan cara yang sama, diajari untuk mengucapkan dan memahami bahasa ibu mereka. Kita harus berbicara dengan anak tuli sama halnya kita lakukan ke suatu sidang, dengan pengecualian bahwa perkataan ditujukan untuk matanya dari pada telinganya.

4.7. 3 Membedakan bahasa tulis dan bahasa lisan
Bahasa Tulisan dan bacaan mempertimbangkan pembedaan di antara bahasa tulisan dan bacaan. perbedaan utama tertulis dan belajar secara langsung dari lingkungan tanpa penggunaan dari apapun.  utama sarana ilmu bahasa, bahasa isyarat seperti suara. membaca sebagai pembanding, adalah belajar melalui satu sarana ilmu bahasa, dengan demikian, ketika kita mengatakan bahwa satu orang pendengar belajar membaca, kita mengira orang itu telah mempunyai bahasa utama untuk belajar membaca.  lagipula bahwa bacaan diajari melalui sarana dari bahasa itu, contohnya suara. secara khas kita menunjuk ke satu perkataan tertulis kata('anjing '). dan di bacaan satu buku yang kita tunjuk ke perkataan tertulis yaitu kalimat , mereka mengatakan ('anjing kecil lari menuju anak perempuan). anak menginterpretasikan perkataan tertulis atas pertolongan kosa kata dan sintaksis yang mana anak yang telah belajar berbicara yang merupakan  hakekat dari bacaan.
            Bagaimanapun, seandainya kita mempertimbangkan satu anak berpendengaran lemah dan tidak mengetahui suara atau tanda dan kita menunjuk ke perkataan tertulis ' anjing '. anak itu  tidak akan mampu untuk memahami kata tersebut. bagaimanapun satu gambar dari satu anjing ditempatkan di sisi perkataan tertulis, kemudian anak akan punya kesempatan terpelajar arti dari sabda. satu anak yang mempelajari bahasa dengan cara tersebut dapat dikatakan bahasa tulisan havelearned. penulisan sendiri adalah sarana primer untuk konsep bahasa. anak harus menemukan arti dari kosa kata tersendiri kemudian mempengaruhi hubungan sintaksis yang menyinggung ke butir data itu, sama halnya dengar anak-anak lakukan dengan suara.
           
Mempelajari bacaan adalah suatu proses lebih mudah dibandingkan belajar untuk menginterpretasikan bahasa tulisan, belajar membaca tidak harus memperoleh nahu dari bahasa. nahu telah dikenal sebelum pelajaran bacaan pertama berawal. untuk belajar membaca, hanya mempelajari betapa bentuk tertulis yang tergambar sesuai dengan bentuk bunyi suara dikenal. untuk mempelajari bahasa tulisan, bagaimanapun kosa kata, bentuk kata, sintaksis dan aspek lain dari nahu harus semua menjadi diperoleh atas dasar bentuk tertulis yang visuil dan hubungan mereka ke objek penuh arti, keadaan dan peristiwa. anak berpendengaran lemah harus mengalami proses yang sama dari belajar bahasa yang anak dengar melakukan bahasa pembungaan. proses seperti itu dapat diharapkan untuk jadilah lebih pemakan waktu dibandingkan belajar untuk baca.

4.7. 4 Penilaian terhadap pendekatan bahasa tulis
Ada  sejumlah keunggulan yang berbeda dengan pendekatan bahasa tulis, anatar lain adalah :
1.      Media pembelajaran yang tepat.
2.      Pengetahuan bahasa tulis tidak perlu diperoleh oleh instruktur.
3.      Instruksi dapat dimulai lebih awal.
4.      Semua anak sama-sama bisa mendapatkan keuntungan.
5.      Akuisisi bahasa tertulis sesuai dengan pendekatan-pendekatan lain.
6.      Pengetahuan bahasa tulis dapat memfasilitasi pembicaraan.
7.      Bahasa tulis dapat meningkatkan intelektualitas.







PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Orang penderita tuna rungu dapat berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Dan mereka juga perlu mengetahui bahasa tulis dan mengenal huruf-huruf. Gerakan tubuh biasanya digunakan untuk menggantikan suatu kata atau frasa, misalnya mengangguk untuk mengatakan ya; untuk mengilustrasikan atau menjelaskan sesuatu; menunjukkan perasaan, misalnya memukul meja untuk menunjukkan kemarahan; untuk mengatur atau menngendalikan jalannya percakapan; atau untuk melepaskan ketegangan.
Ada  satu tangan atau dua tangan untuk sistem ejaan jari . misalnya Amerika dan Swedia, menggunakan satu tangan, sedangkanInggris  menggunakan dua . Pengguna kedua sistem  relatif cepat, tetapi  prosesnya  agak sulit. Sistem dua tangan lebih cepat dan memberikan huruf  lebih mudah terindentifikasi tetapi tidak memungkinkan tangan bebas untuk keperluan lainnya.
3.2 Kritik dan Saran
Kepada seluruh pembaca makalah ini kami mengharapkan kritik dan saran untuk makalah kami. Demi pemahaman yang lebih efisien lagi. Mohon maaf jika pembahasan kami kurang dapat di pahami. Terimakasih.









DAFTAR PUSTAKA
D. Steinberg Danny. 1993. An Introduction to Psycholinguistics. New York : Longman.