Goresan 26 desember 2012. YA... luka ku hari ini tidak mungkin akan terlupakan seumur hidupku mungkin!!
terimakasih teman atas luka ini, dari luka ini aku semakin memahami siapa dirimu.
berdo'alah saat kau datang membutuhkanku, Allah masih membukakan hatiku untuk membantumu.
Aku juga berharap agar hatiku tidak tertutup untuk melihat kebaikanmu, karena luka ini.
Aku kira kau adalah teman yang dapat di andalkan untuk hal kecil seperti ini, namun perkiraan ku hari ini salah besar..salahhhh sekali kawan..,.( kau adalah teman yang tak tau balas budi ) aku tidak mengharapkan kau membalas semua yang pernah aku lakukan padamu..tetapi paling tidaknya kau sadar diri bahwa suatu saat nanti kau masih akan membutuhkanku dan mungkin begitu juga padaku masih membutuhkanmu.
sering aku mendapatkan perlakuan jahat darimu,, bukan sifatku untuk membalasnya...
namun teman, hari ini air mataku telah terjatuh menahan sakit ini. dan aku yakin kau tidak dapat merasakannya. karena kau adalah teman yang berhati emas tapi jauh dari kebijakan.
Walaupun demikian teman,, aku ucapkan terimakasih atas luka ini. dan aku berdo'a semoga engkau berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi...
cukup aku yang lukai seperti ini...cukup aku saja....
Rabu, 26 Desember 2012
Kamis, 13 Desember 2012
KALIMAT DALAM WACANA
KALIAMAT
DALAM WACANA
BAB
1 PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang dan Masalah
1.1.1
Latar Belakang
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil,
dalam wujud lisan atau tulis yang memiliki sekurang-kurangnya subjek dan
predikat. Bagi seorang pendengar atau pembaca, kalimat adalah kesatuan kata
yang mengandung makna atau pikiran. Sedangkan bagi penutur atau penulis,
kalimat adalah satu kesatuan pikiran atau makna yang diungkapkan dalam kesatuan
kata. Menurut KBBI (2008: 609) kalimat adalah kesatuan ujar yang mengungkapkan
suatu konsep pikiran dan perasaan.
Dapat dipahami bahwa sebuah wacana
melebihi sebuah kalimat. Hal ini sesuai dengan pengertian bahasa secara
sederhana, yakni “alat komunikasi”. Sebagai alat komunikasi, bahasa tentunya
tidak diucapkan satu kalimat, tetapi penyampaian gagasan, pikiran, perasaan
tersebut dapat berupa kalimat berangkai. Selain itu, analisis terhadap wacana
dimaksudkan untuk menginterpretasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan
konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks
linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian
kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti sedangkan konteks etnografi
berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor
budaya masyarakat pemakai bahasa. Inilah yang dimaksudkan dengan wacana dari
definisi di atas.
Bila
terdiri dari sejumlah kalimat, untuk mencapai keutuhan sebuah wacana,
kalimat-kalimat tersebut harus memiliki
kaitan antara yang satu dengan yang lain. Sebagai akibat dari keharusan maka
kalimat di dalam wacana, maka strukturnya bisa bermacam-macam.
Pengaitan sebuah kalimat dengan kalimat
lain di dalam sebuah wacana dapat dilakukan dengan sarana atau alat sebagai
berikut:
a.
Konjungsi;
b.
Penunjukan;
c.
Kata ganti;
d.
Perapatan;
e.
Padanan kata;
f.
Lawan kata;
g.
Hiponimi;
h.
Kesamaan tema;
i.
Kesejajaran.
1.1.2
Masalah dan Batasan
Masalah
1.1.2.1 Masalah
Berdasarkan
apa yang di uraikan pada latar belakang, ada beberapa masalah yang timbul,
terkait dengan pembahasan kami mengenai “ Kalimat dalam Wacana “ yaitu:
1. Sarana
apa sajakah yang diperlukan dalam pembentukan wacana?
2. Apa
yang di maksud dengan wacana?
3. Ada
berapakah jenis wacana?
4. Seberapa
penting kalimat dalam pembentukan wacana?
5. Bagaimana
struktur kalimat dalam wacana?
1.1.2.2 Batasan
Masalah
Berdasarkan
beberapa masalah yang timbul dalam makalah ini, kami hanya membahas beberapa
masalah yaitu:
1. Sarana
apa sajakah yang diperlukan dalam pembentukan wacana?
2. Apa
yang di maksud dengan wacana?
3. Bagaimana
struktur kalimat dalam wacana?
1.2 Tujuan
Tujuan kami menyusun
makalah ini yaitu:
1. Untuk
menegtahui dan memahami apa saja sarana yang diperlukan dalam pembentukan wacana.
2. Untuk
mengetahui dan memahami apa yang disebut dengan wacana.
3. Untuk
mengetahui dan memahami struktur kalimat dalam wacana.
1.3 Ruang Lingkup
Pengaitan sebuah kalimat dengan kalimat lain di dalam sebuah wacana
dapat dilakukan dengan sarana atau alat sebagai berikut:
a.
Konjungsi;
b.
Penunjukan;
c.
Kata ganti;
d.
Perapatan;
e.
Padanan kata;
f.
Lawan kata;
g.
Hiponimi;
h.
Kesamaan tema;
i.
Kesejajaran.
Wacana merupakan satuan bahasa di atas tataran kalimat yang
digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Sebauah wacana sebagai
satuan terbesar di dalam hirarki kebahasaan bisa berupa kalimat. Bila terdiri
dari sejumlah kalimat, untuk mencapai keutuhan sebuah wacana, kalimat-kalimat
tersebut harus memiliki kaitan antara
yang satu dengan yang lain. Kalimat di dalam suatu wacana memiliki struktur
yang bermacam-macam.
BAB
II PEMBAHASAN
2.1
Wacana
Wacana
adalah satuan bahasa yang terdiri dari sebuah kalimat atau beberapa kalimat
yang menyatakan satu pesan atau satu amanat yang utuh. Sebuah wacana sebagai
satuan terbesar di dalam hirarki kebahasaan bisa berupa satu kalimat, sepeti
ungkapan Jagalah kebersihan. Akan
tetapi, lazimnya terdiri dari sejumlah kalimat yang membentuk suatu paragraf.
Setiap paragraf dalam wacana memiliki sebuah pikiran pokok dan sejumlah pikiran
penjelas. Pikiran pokok tersebut direalisasikan dalam sebuah kalimat utama yang
selalu berwujud kalimat bebas. Sedangkan pikiran penjelas direalisasikan dalam
kalimat-kalimat penjelas yang wujudnya berupa kalimat terikat. Di dalam wacana,
kalimat tidak dapat berdiri sendiri karena satu dengan yang lainnya saling
berkaitan. Akibatnya, struktur kalimat pun menjadi berbeda dengan strukturnya
sewaktu berdiri sendiri.
Istilah
wacana (discourse) yang berasal dari Bahasa Latin, discursus,
telah digunakan baik dalam arti terbatas maupun luas. Secara terbatas, istilah
ini menunjuk pada aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan yang mendasari
penggunaan bahasa baik dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Secara lebih
luas, istilah wacana menunjuk pada bahasa dalam tindakan serta pola-pola yang
menjadi ciri jenis-jenis bahasa dalam tindakan.
Beberapa
contoh kalimat dalam wacana adalah sebagai berikut.
a. [Benyamin] artis penyanyi, pelawak, dan pemain
film itu telah tiada (1). [Dia] dilahirkan di jakarta sebelum tentara jepang
menduduki Indonesia (2). Wacana tersebut terdiri dari dua buah kalimat. Kalimat
(1) merupakan kalimat bebas; Sedangkan kalimat (2) merupakan kalimat penjelas.
Ketika sebagai kalimat yang berdiri sendiri
adalah Benyamin dilahirkan di Jakarta sebelum tentaara Jepang menduduki
Indonesia;
b. Sekarang di Riau amat sukar mencari terubuk (1). Jangankan ikannya,
telurnya pun sukar diperoleh (2). Kalau pun bisa diperoleh harganya melambung
selangit (3), makanya, ada kecemasan masyarakat nelayan di sana bahwa terubuk
yang spesifik itu akan punah (4). Wacana tersebut dibangun oleh empat buah kalimat.
Kalimat (1) merupakan kalimat yng bisa berdiri sendiri. Sedangkan kalimat (2),
(3), dan (4) adalah kalimat-kalimat terikat.
Alwi, dkk. (1998:419) mengatakan bahwa wacana adalah
rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan
proposisi yang lain dan membentuk kesatuan. Kridalaksana (2001:231) menyatakan
bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal
merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana menurut
Kridalaksana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (misal novel, buku,
seri ensiklopedia, dan sebagainya), paragraf, kalimat atau kata yang membawa
amanat yang lengkap. Para penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga
sepakat memberikan batasan wacana sebagai berikut, “komunikasi verbal;
percakapan; keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; satuan bahasa
terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh seperti
novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah; kemampuan atau prosedur berpikir
sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal
sehat; pertukaran ide secara verbal” (KBBI, 2008:1552).
2.2 Sarana Pengaitan
Kalimat
Pengaitan
sebuah kalimat dengan kalimat lain di dalam sebuah wacana(paragraf) dapat dilakukan,antaralain,dengan
sarana atau alat:
1.
Konjungsi,
2.
Peninjukan,
3.
Kata ganti,
4.
Perapatan,
5.
Padanan kata,
6.
Lawan kata,
7.
Hiponimi,
8.
Kesamaan tema,
9.
Kesejajaran.
Konjungsi
Yang
digunakan untuk menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat lain dalam
sebuah klausa adalah konjungsi antar kalimat. Konjungsi antarkalimat ini dapat
dibedakan atas :
(a) Konjungsi
yang menyatakan kesimpulan, yaitu konjungsi jadi,
maka(makanya), kalau begitu, dengan demikian, dan begitulah. Contoh:
- Bulan
lalu kamu meminjam uang saya Rp 100.000,-, sekarang meminjam lagi Rp 60.000,-, jadi, hutangmu semua berjumlah Rp
160.000,-.
(b)
Konjungsi yang menyatakan ‘sebab’ atau ‘alasan’, yaitu konjungsi sebab itu, karena itu, oleh karena itu, dan
itulah sebabnya. Contoh:
-
Sungai-sungai dan saluran-saluran air di jakarta penuh dengan sampah dan
ketoran. Oleh karena itu,kita tidak
perluh heran kalau bahaya banjir selalu mengancam jakarta.
(c)
konjungsi yang menyatakan ‘waktu’, yaitu konjungsi sebelum itu, sesudah itu,
dan sementara. Contoh:
- Kami baru
saja selasai membangun balai pertemuan ini.sebelum
itu,kami telah berhasil merehab masjid tua itu.
(d)
Konjungsi yang menyatakan ‘menegaskan’atau ‘menguatkan’, yaitu konjungsi itu
pun, lagi pula, apalagi, selain itu, dan tambahan lagi. Contoh:
- Orang
lain menyumbang sedikitnya lima puluhg ribu rupiah, dia hanya menyumbang lima
ribu rupiah. Itu pun diberikannya
dengan berat hati.
(e)
Konjungsi yang menyatakan ‘pertentangan’, yaitu konjungsi sebaliknya dan
berbeda dengan. Contoh:
- Di kantor
beliau sangat galak kepada bawahannya.sebaliknya,
di rumah dia sangat takut pada istri.
Penunjukan
Hubungan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain di dalam
satu wacana dapat pula dilakukan dengan penunjukan. Kata-kata yang digunakan
adalah kata ganti tunjuk (pronomina demonstrativa) itu dan ini. Kata ganti
tunjuk itu digunakan untuk menunjuk
sesuatu yang jauh atau dianggap jauh; dan kata ganti tunjuk ini digunakan untuk menunjuk yang dekat atau
dianggap dekat. Contoh :
- kebijakan untuk menaikkan harga BBM terpaksa dilakukan,
meskipun didasari akan memberi dampak yang luas dalam masyarakat. Itu terpaksa dilakukan demi
menyelamatkan anggaran belanja Negara.
- kalau kamu rajin belajar, rajin beribadat, dan taat pada
orang tua, tentu hidupme akan bahagia. Ini
kukatakan kepadamu karena kamu sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.
Kata Ganti (Pronomina Persona)
Kata yang digunakan untuk menghubungkan kalimat yang satu
dengan kalimat yang lain di dalam satu wacana adalah kata ganti orang ketiga,
baik tunggal maupun jamak, yaitu kata-kata
dia, ia, nya, dan mereka. Termasuk
juga kata beliau, almarhum, dan almarhuma. Contoh:
2.3
Struktur Kalimat dalam Wacana
BAB
III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Kritik
dan Saran
Wacana
adalah satuan bahasa yang terdiri dari sebuah kalimat atau beberapa kalimat
yang menyatakan satu pesan atau satu amanat yang utuh. Sebuah wacana sebagai
satuan terbesar di dalam hirarki kebahasaan bisa berupa satu kalimat. Akan
tetapi, lazimnya terdiri dari sejumlah kalimat yang membentuk suatu paragraf.
Setiap paragraf dalam wacana memiliki sebuah pikiran pokok dan sejumlah pikiran
penjelas. Pikiran pokok tersebut direalisasikan dalam sebuah kalimat utama yang
selalu berwujud kalimat bebas. Sedangkan pikiran penjelas direalisasikan dalam
kalimat-kalimat penjelas yang wujudnya berupa kalimat terikat. Di dalam wacana,
kalimat tidak dapat berdiri sendiri karena satu dengan yang lainnya saling
berkaitan. Alwi, dkk. (1998:419)
mengatakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang
menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain dan membentuk
kesatuan.
Kridalaksana (2001:231) menyatakan bahwa
wacana merupakan satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan
satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana menurut Kridalaksana
direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (misal novel, buku, seri
ensiklopedia, dsb.), paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang
lengkap. Para penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga sepakat memberikan
batasan wacana sebagai berikut.
“komunikasi verbal; percakapan; keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah; kemampuan atau prosedur berpikir sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; pertukaran ide secara verbal” (KBBI, 2005:1265).
“komunikasi verbal; percakapan; keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah; kemampuan atau prosedur berpikir sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; pertukaran ide secara verbal” (KBBI, 2005:1265).
PSIKOLINGUISTIK (BAHASA ISYARAT)
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Komunikasi dengan bahasa oleh manusia
dilakukan melalui kegiatan berbicara dan mendengarkan. Sementara itu kemampuan
bahasa diperoleh melalui peniruan bunyi bahasa yang diterima melalui
pendengaran. Sehingga karena anak tunarungu tidak mendengar suara yang dapat
ditiru maka kemampuan bicaranya sulit berkembang, sehingga hambatan-hambatan
pada aspek ini mengakibatkan individu sulit berkomunikasi dengan orang lain
yang lazim menggunakan bahasa verbal sebagai alat untuk berkomunikasi.
Anak tuna rungu adalah individu yang
mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar, kondisi ini sangat
berdampak dalam kehidupannya, baik sebagai individu maupun sebagai insan
sosial. Kesulitan siswa tunarungu dalam berbicara dan memahami pembicaraan
orang lain, mengakibatkan ia sulit berkomunikasi. Berbagai penelitian tentang
anak tunarungu menunjukan penguasaan bahasa lisan siswa tunarungu masih rendah,
sehingga hal tersebut berdampak terhadap apresiasi dan prestasi akademik secara
umum. Fenomena ini menunjukan kurang efektifnya penggunaan bahasa dan komunikasi
pada anak tunarungu di sekolah, dikeluarga ataupun dalam pergaulan hidup
sehari-hari. Sehingga alternatif penggunaan berbagai media dalam pembelajaran
menjadi hal penting dan mendesak dikaji secara terus menerus.
Gerakan tubuh biasanya digunakan
untuk menggantikan suatu kata atau frasa, misalnya mengangguk untuk mengatakan
ya; untuk mengilustrasikan atau menjelaskan sesuatu; menunjukkan perasaan,
misalnya memukul meja untuk menunjukkan kemarahan; untuk mengatur atau mengendalikan
jalannya percakapan; atau untuk melepaskan ketegangan.
Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi
dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata. Contoh
komunikasi nonverbal ialah menggunakan gerak
isyarat, bahasa tubuh, ekspresi
wajah dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian, potongan
rambut, dan sebagainya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya
berbicara.
1.2
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas ada
beberapa masalah, yaitu :
-
Apa yang anda ketahui
tentang bahasa isyarat?
-
Apa kegunaan bahasa
tubuh?
-
Bagaimana orang tuna
rungu berkomunikasi?
-
Bagaimana pendekatan
komunikasi untuk orang tuna rungu?
-
Pentingkah bahasa tulis
untuk orang tuna rungu?
1.3
Tujuan
Tujuan
kami menyusun makalah ini adalah untuk memahami lebih dalam lagi bahasa isyarat
untuk orang-orang tuna rungu. Seberapa penting bahasa isyarat untuk orang-orang
tuna rungu? Perlukah orang-orang tuna rungu mengenal huruf-huruf ? menjawab
pertanyaan-pertanyaan ini juga tujuan kami menyusun makalah ini.
Selain
dari itu, tujuan kami menyusun makalah ini untuk memenuhi tugas kelompok yang
telah diberikan oleh Bapak dosen mata kuliah Psikolinguistik di kelas 5 B
Pendidikan Bahasa Indonesia. Serta berbagai sedikit pengetahuan kepada
rekan-rekan juga tujuan kami menyusun makalah ini.
PEMBAHASAN
BAHASA ISYARAT DAN BAHASA TULIS PADA ORANG TULI
Bahasa isyarat adalah bahasa yang mengutamakan komunikasi
manual, bahasa tubuh, dan gerak bibir, bukannya suara, untuk berkomunikasi.
Kaum tunarungu adalah kelompok utama yang menggunakan bahasa ini, biasanya
dengan mengkombinasikan bentuk tangan, orientasi dan gerak tangan, lengan, dan
tubuh, serta ekspresi wajah untuk mengungkapkan pikiran mereka. Bahasa
tulis adalah ragam bahasa baku yang digunkan sebagai sarana komunikasi secara
tertulis.
4.1. BAHASA TANPA SUARA
Dapatkah
bahasa ada dalam pikiran kita tanpa bicara? dapatkah tanpa suara bahasa menjadi
bahasa isyarat yang akurat? Sebagai pertanyaan mungkin aneh, ada alasan yang
baik untuk psikolinguistik meminta mereka, untuk penyelidikan pertanyaan akan
terbukti cukup mengungkapkan sehubungan dengan sifat psikologis bahasa dan
media sensorik yang dapat diperoleh. Selanjutnya, dalam pembahasan tersebut
beberapa isu kontroversial akan muncul, isu yang penting praktis yang besar
bagi orang-orang tuli dalam beromunikasi dan pendidikan. Ini akan menjadi jelas
bahwa, tanpa landasan yang kuat dalam konsep psikolinguistik,upaya-upaya untuk
menangani dengan bijaksana seperti masalah bahasa praktis akan menghasilkan
kebingungan.
4.2. BAHASA TANPA BICARA
Sekarang sebagian besar dari kita
memiliki kesempatan untuk mengalami bahasa isyarat. walaupun hanya untuk
melihat dari layar TV kita. Di sana kita bisa melihat orang menerjemahkan
pidato ke tanda untuk kepentingan pemirsa yang tuli dan tuna rungu. Anda
mungkin bertanya-tanya, dan cukup dibenarkan, apakah tanda-tanda yang
benar-benar merupakan bagian dari bahasa atau hanya kumpulan gerakan yang tidak
memiliki kecanggihan dari bahasa didasarkan pada pembicaraan.
Bagaimana kita bisa menilai apakah
orang-orang yang menggunakan 'bahasa isyarat' benar-benar memiliki bahasa,
sementara beberapa mungkin mencoba untuk menyajikan sebuah upaya panjang tentang sifat bahasa dan kemudian
menggunakannya sebagai kriteria, aku lebih ingin menawarkan sederhana, dan,
saya percaya , lebih efektif, kriteria. Bisakah kita tidak setuju bahwa
seseorang memiliki bahasa jika seseorang yang dapat berkomunikasi dengan
menandatangani apapun yang dapat dikomunikasikan dengan pidato? ini tampaknya
wajar karena kita semua bisa sepakat bahwa orang yang disampaikan dalam pidato
yang memiliki bahasa. Tentu saja, kriteria ini harus memungkinkan untuk berbeda
dalam sarana fisik komunikasi: penandatanganan daripada berbicara. Ini bukan
konsesi penting, karena, sama seperti kita menganggap tindakan fisik
memproduksi dan mendengar pidato sebagai berbeda dalam beberapa cara dari
bahasa (yang ada dalam pikiran kita), demikian juga kita dapat menganggap
memproduksi dan melihat tanda-tanda sebagai sama berbeda dari bahasa. Bahasa,
tentu saja, tidak tergantung pada beberapa modus fisik untuk akuisisi dan
penggunaan, tetapi titik di sini adalah bahwa modus tidak perlu dibatasi untuk
suara. Bahkan sentuh dapat digunakan sebagai modus dengan orang yang sama-sama
tuli dan buta (menurut Helen keller).Seperti komunikasi mengungkapkan berbagai
fungsi semantik kompleks dan hubungan (pertanyaan, kondisional, waktu, dll) dan
melibatkan sejumlah acara dan situasi, tidak ada yang, cukup menarik, telah
terjadi. (Sesuai dengan kalimat: cuaca tidak baik, paman tidak datang untuk
memberikan Mary uang, dan Mary tidak membeli stereo) orang yang dapat
menghasilkan dan memahami komunikasi seperti ini, meskipun mereka melalui tanda
agak pidato , pasti cukup dapat dikatakan memiliki bahasa.
Nah, penelitian ini menunjukkan bahwa
pembicara dari bahasa isyarat seperti American Sign Language, Bahasa Isyarat
Perancis, Bahasa Isyarat Inggris, dan lain-lain tertentu memang bisa
berkomunikasi dalam tanda apa pun yang diungkapkan dalam berkomunikasi. Namun,
ini tidak mungkin benar meskipun bahasa isyarat lain yang tidak lengkap
sintaksis atau terbatas dalam hal kosakata. Bahasa isyarat lengkap biasanya
ditemukan di negara-negara berkembang, meskipun dalam bahkan beberapa negara
maju, bahasa isyarat dapat menderita kekurangan. Di Jepang, misalnya di mana
pemerintah nasional melarang pengajaran dan penggunaan bahasa isyarat di
sekolah umum, standardisasi dan kosakata adalah masalah.
Kembali ke kriteria bahasa tidak hanya
dapat penandatangan fasih bahasa isyarat lengkap seperti American Sign Language
(ASL) tanda apapun pembicara bisa mengatakan, tapi penandatangan berkomunikasi
dengan kecepatan yang sama sebagai pembicara tidak. Kecepatan di mana
penandatangan menghasilkan kalimat-kalimat (lebih tepatnya proposisi yang
menggaris bawahi kalimat) dalam percakapan tanda cenderung sama di mana speaker
menghasilkan kalimat-kalimat dalam percakapan pidato. Hal ini terjadi meskipun
penandatangan, seperti halnya seorang pembicara, memiliki kemampuan untuk
melebihi kecepatan ini. Tampaknya ada kecepatan yang optimal di mana manusia
dapat nyaman untuk memproses informasi bahasa., Apakah informasi yang berupa
pembicaraan atau tanda.
Sebelum mempertimbangkan esensi bahasa
isyarat ini akan berguna, dan menarik
untuk memeriksa sarana terkait komunikasi yang digunakan oleh mendengar gerakan
orang. Meskipun gerakan mungkin rumit, mereka hanyalah mengkoleksi tanda dan
tidak membentuk bahasa yang benar tidak ada tata bahasa dengan gerakan yang
dapat dikombinasikan untuk membentuk setara dengan kalimat, kecuali dari jenis
yang paling dasar ('Anda datang', saya lapar '). Namun demikian, mereka
memainkan peranan penting dalam komunikasi baik dalam hubungannya dengan pidato
dan sebagai alternatif untuk berbicara.
4.3 Gerakan dan Tanda-tanda
4.3.1 Gerakan tanpa bicara
4.3.1 Gerakan tanpa bicara
Orang-orang
menggunakan berbagai gerakan tubuh untuk menyampaikan pesan. Sebagaian besar
gerakan melibatkan wajah dan tangan, meskipun postur tubuh juga sangat penting.
Contoh: salam (halo, selamat tinggal - dengan menggerakkan tangan dan lengan),
meminta dan memerintah (datang, pergi, berhenti-dengan memindahkan tangan ),
menghina (mengeluarkan lidah bagi anak-anak,
pengibaran yang jari tengah oleh orang
dewasa), menjawab (ya, tidak, saya tidak tahu-dengan menggerakkan kepala),
mengevaluasi (baik / sempurna - dengan membuat lingkaran dengan ibu jari dan
jari telunjuk, dan kemenangan / keberhasilan-dengan membuat tanda V); menggambarkan (tinggi, pendek, panjang - dengan menggunakan
lengan dan tangan ), merujuk (diri sendiri, yang lain, yang ini, yang itu- dengan ujung jari) dan memarahi
(wajah cemberut), ini hanyalah beberapa
kategori gerakan yang banyak digunakan
untuk berkomunikasi secara langsung tanpa berbicara.
Beberapa
gerakan yang hampir menyeluruh, seperti mengerakkan tangan atau lengan untuk menunjukkan 'datang'
(Amerika membuat gerakan menyapu lengan dari siku ke arah tubuh mereka sendiri
dengan tangan sedikit dipegang dalam posisi vertikal, sementara Jepang
menggerakkan sedikit tangan mereka dengan telapak menghadap ke bawah dan lengan
mereka terentang horizontal) atau dalam menunjuk ke tubuh seseorang untuk
menunjukkan 'diri’ ( untuk Amerika mereka menunjuk dada mereka, sementara Cina
menunjuk hidung mereka ). Bagaimanapun banyaknya gerakan adalah khusus untuk
daerah budaya, linguistik atau geografis. Thuns Sri Lankas dengan menggelengkan
kepala mereka sementara untuk menunjukkan 'ya' atau 'kesepakatan' bagi mereka,
menunjukkan 'tidak' atau 'tidak setuju' untuk
penutur bahasa Inggris. (Saya pernah menjadi penasehat siswa MA dari Sri
Lanka, meskipun saya tahu bahwa dia
gemetar dan dari kepalanya ditandai
sedikit kesepakatan apa pun yang saya katakan, saya tidak pernah bisa
terbiasa untuk itu). Dan, sementara di Jepang jari telunjuk mereka menempel ke
atas kepala mereka untuk menunjukkan
seseorang 'marah', seseorang dari
Perancis mengunjungi Jepang, mungkin untuk mencari makna, menafsirkan gerakan
itu sebagai indikasi 'cuckold', setelah ekspresi bahasa Perancis 'menggunakan terompet dari tanduk'.
Di
mana-mana gerakan wajah khusus digunakan
untuk ekspresi berbagai emosi dan perasaan. Sebenarnya kita tidak perlu
mengucapkan kata 'saya ...... (Senang, terkejut, jijik, kecewa, senang, marah,
dll) ketika kita memiliki non-verbal repertoar luar biasa mudah untuk rol mata
kita putus asa, kontrak alis kita terkejut dan angkuh menaikkan alis kita (dari mana,
ngomong-ngomong, kita mendapatkan jenis lain kata angkuh , mengangkat alis dari
bahasa latin artinya 'congkak’). Keengganan, kebingungan, perhatian, cinta,
jengkel, kejutan , agresif, diragukan, kebodohan, disampaikan oleh kombinasi
berbagai ekspresi wajah, gerakan tangan dan postur tubuh.
4.3.2 Gerakan dengan cara bicara
Meskipun
besar jumlah gerakan yang tersedia untuk digunakan, jelas bahwa sebagian besar
memberi isyarat bahwa gerakan-gerakan terlibat dalam berkomunikasi ketika
dikoordinasikan dengan cara bicara. Sementara beberapa dari gerakan tersebut
memiliki fungsi tanda ikonik yaitu dapat digunakan dengan sendirinya untuk
menyampaikan makna lain. Sebuah contoh mengalahkan, di mana satu tangan atau
jari disimpan dalam gerak dan sesuai dengan apa yang orang katakan.
Ketukan yang
langsung dari dalam dan tidak berubah dengan isi kalimat. Dalam membuat
ketukan, orang akan menggerakkan tangan mereka ke atas dan ke bawah atau maju
mundur. Hal ini cenderung disampaikan dengan bahasa tubuh, seperti untuk sisi
marah, bukan di pusat menyinggung. Tujuan dari ketukan, menurut McNeill dalam
analisisnya pengertin dari gerakan, pada dasarnya untuk menekankan fungsi
wacana dengan bicara bersamaan. Ketukan
tidak menambah isi deskripsi atau cerita melainkan berfungsi untuk
menekankan pengenalan karakter baru , pengaturan adegan, yang menjamin beberapa
peristiwa, dan sejenisnya. Mc Neill menyajikan contoh kasus berikut, Seseorang
(A) telah ditunjukkan film dan diminta untuk membicarakan teman wanitanya, dan
mengatakan 'teman wanitanya ' dia membuat sebuah ketukan . A kemudian
mengatakan bahwa nama depannya adalah Alice , saat ia mengatakan 'Alice' ia
membuat ketukan yang lain. A kemudian melanjutkan dengan mengatakan bahwa nama
keluarganya adalah Putih , saat ia mengatakan 'putih', ia membuat ketukan yang
lain. Dari ketukan yang dibuat sedikit sukses dari narasi, satu ketuk untuk
informasi baru. Namun, perlu dicatat bahwa, mungkin banyak
ketukan yang dilakukan untuk satu
kalimat dan bahwa informasi baru tidak selalu terlibat. Misalnya, McNeill
menggambarkan salah satuanak berusia 5 tahun , diminta menanggapi sesuatu, Ini
sesuatu yang lain 'Ketika ia mengatakan hal ini tangan anak bangkit dan turun
tiga kali pada sandaran tangan dari kursi dia duduk , bahkan anak-anak
mendapatkan gerakan yang cukup awal
menyertai bicara bahasa mereka.
Selain
ketukan, orang membuat jenis lain, mungkin lebih penting dari gerakan bersama
sedikit pun berbicara. Ini adalah gerakan ikon atau konten yang menurut Mc
Neill dan penelitian colleangues nya ', hanya sekali terjadi dalam setiap
klausa. Gerakan tersebut menempati ruang gerakan pusat dan dapat menambah atau
membuat lebih eksplisit dari beberapa bagian deskripsi atau alur cerita. Jadi,
misalnya, ketika orang diminta untuk menggambarkan sesuatu yang mereka lihat
dan mereka mengucapkan kalimat seperti 'Dia mencoba untuk naik bagian dalam
pipa pembuangan' dan 'Dia akan naik melalui pipa saat ini', dalam kedua kasus
speaker membuat gerakan ke atas, baik dengan jari atau tangan. Gerakan ini
dibuat dari bagian penting kalimat
(dicetak miring) sedang diucapkan. Membuat catatan dari apa yang dilakukan
orang ketika mereka berbicara, seperti produksi mereka ikon dan gerakan yang mereka buat, bisa menjadi hobi yang
sangat menarik. Anda akan terkejut dengan apa yang Anda pelajari, jika Anda
dapat menahan dorongan untuk tersenyum atau tertawa keras-keras.
4.4 Sign ( Tanda ) Bahasa
4.4.1 Jenis-jenis bahasa isyarat
4.4.1 Jenis-jenis bahasa isyarat
Penggunaan
bahasa isyarat tangan , wajah atau gerakan tubuh lainnya dalam ruang tiga
dimensi sebagai sarana fisik komunikasi. Pada prinsipnya, ada dua jenis bahasa
isyarat dan ini berbeda, apakah tanda
atau tidak mewakili tanda biasa (berbicara-based) bahasa. Dengan demikian, ada
bahasa isyarat yang kata biasa (meskipun tanda) dan ketertiban mereka saat
mereka muncul dalam bahasa biasa, seperti Swedia, Inggris dan Perancis, dan ada
bahasa isyarat seperti American Sign Language dan British Sign Language yang
memiliki kata-kata mereka sendiri dan sistem tata bahasa untuk generasi
kalimat.
4.4.2 Sign ( tanda ) bahasa mewakili ejaan atau
bicara
Sign
bahasa berdasarkan bahasa sehari dapat dari dua jenis yang berbeda. Salah satu
jenis seperti mewakili kata dengan ejaan mereka dalam hal tanda individu, di
mana tanda masing-masing mewakili kedua alfabet. Tangan dan jari konfigurasi
yang digunakan untuk menunjukkan bagian akhir, seperti membuat V dengan jari
telunjuk dan jari tengah atau O sedikit pun ibu jari dan jari telunjuk. Dengan
demikian, kata cukup ditandai huruf demi huruf , e, n, o, u, g, dan h,
mengikuti ejaan bahasa Inggris. Kata-kata dan kalimat seluruh dikomunikasikan
dalam metode huruf demi huruf. Urutan huruf
persis yang terjadi dalam penulisan bahasa biasa.


Ada satu tangan atau dua tangan untuk sistem
ejaan jari . misalnya Amerika dan Swedia, menggunakan satu tangan,
sedangkanInggris menggunakan dua .
Pengguna kedua sistem relatif cepat,
tetapi prosesnya agak sulit. Sistem dua tangan lebih cepat dan
memberikan huruf lebih mudah
terindentifikasi tetapi tidak memungkinkan tangan bebas untuk keperluan
lainnya. Hanya beberapa sekolah tuli (seperti Sekolah Rochester di Amerika)
bergantung sepenuhnya pada ejaan jari untuk mengekspresikan semua komunikasi.
(Kalimat 'Anak batuk' dinyatakan sebagai rangkaian tanda surat individu: t, h,
e, b, o, y, c, o, u, g, h, e, dan d). Meskipun tangan penanda semua
sistem, harus belajar untuk menggunakan
ejaan jari karena kata benda paling mirip Manila, Caroline dan Kensington,
tidak memiliki tanda individu khusus mereka sendiri . Kata benda seperti abu,
harus dieja jari. Lebih populer daripada Metode Rocherster ejaan jari adalah
jenis languange tanda yang menggunakan tanda keseluruhan untuk setiap kata
pembicaraan atau bagian kata yang bermakna (n: orpheme). Untuk 'batuk-batuk',
misalnya, akan ada satu tanda keseluruhan untuk 'Chough', dan satu lagi untuk
bentuk lampau. Melihat bahasa Inggris Esensial dan Penandaan tangan bahasa Inggris Exact khas dari sistem tanda
tersebut. Ini sistem languange, karena
ingin nama, saya sebut Penandaan tangan Bahasa Ordnary (SOL). Mengikuti
tanda-tanda aliran linear yang tepat dari kata-kata yang diucapkan.
Sebuah
sistem SOL memiliki kelebihan penting tertentu untuk pelajar. Dengan belajar itu,
tidak hanya orang tersebut akan dapat
berkomunikasi dengan orang cacat pendengaran
(yang tahu sistem) tetapi pelajar akan memiliki pengetahuan tentang
sintaks dan kosakata dari bahasa biasa juga. Bahasa biasa maka akan tidak harus
dipelajari sebagai bahasa kedua (sejauh kosakata dan systax yang bersangkutan) oleh orang-orang yang
bahasa ibunya adalah bahasa isyarat yang independen. Untuk alasan yang sama,
juga belajar membaca tidak akan sesulit. Selain itu, sistem SOL memiliki
keuntungan menjadi lebih mudah bagi orang untuk mendengar daripada bahasa
isyarat independen sejak SOL didasarkan pada tata bahasa yang orang sudah tahu
pendengaran melalui berbicara. Ini adalah khususnya kepada orang tua anak-anak tuli yang secara
alami ingin membangun sarana untuk berkomunikasi dengan anak-anak mereka
secepat mungkin. Kebanyakan anak tuli, perlu dicatat dalam hal ini, yang lahir
dari orang tua mendengar. Meskipun banyak keuntungan, SOL memiliki satu masalah serius, yang mungkin berakibat fatal. Umumnya
orang tuli tidak menyukainya. Mereka merasa lebih rumit dan kurang alami untuk
digunakan daripada bahasa isyarat yang telah berkembang melalui penggunaan yang
luas dalam komunitas tuna rungu.
4.4.3 Bahasa Isyarat Independen (SL)
Beberapa karakteristik SL
Beberapa karakteristik SL
Tanda
dari bahasa isyarat yang independen dari bahasa berbicara-based (selanjutnya,
SL) dapat dipecah menjadi tiga komponen dasar: I dan konfigurasi, bagaimana
tangan terbentuk, tempat artikulasi, di mana tangan terbentuk, dan gerakan,
bagaimana bergerak tangan. Pada tingkat kata dari bahasa biasa, tidak ada satu kata yang berbeda dalam arti sepenuhnya
dari satu sama lain, tetapi juga kata-kata yang sangat berhubungan, hanya
berbeda dalam morfologi, atau bentuk suara mereka. Misalnya, dalam bahasa
Inggris dari kata 'membandingkan', kata-kata seperti 'dibandingkan',
'membandingkan', 'membandingkan' dan 'perbandingan' berasal. Perubahan
morfologi tersebut juga memiliki setara dalam SL. Mengatur pergerakan tanda
dengan mengubah kecepatan atau ketegangan atau tingkat pengulangan, memberikan
n SL kemampuan untuk mengarahkan nomina dari verba, seperti 'pembanding' dari
'membandingkan', serta menghasilkan derivasi yang unik untuk SL. Misalnya, di
ASL tanda untuk 'gereja', 'saleh', dan 'berpikiran sempit' (!) Hanya berbeda
dalam cara gerakan yang terlibat. Kemudian, froms uninflected ada tanda yang dapat didefinisikan oleh fitur
tempat, konfigurasi dan gerakan, dengan variasi gerakan menyediakan sarana
untuk variasi morfologi dan perubahan aspek. Kata SL dan morfem yang
dibuat dalam banyak cara yang sama
seperti kata-kata yang diucapkan sehingga memberikan variasi dalam kelas tata
bahasa dan makna. Hanya bagaimana tanda cenderung dibuat ketika comaparing ASL
mengatakan, Sign Bahasa Cina (CSL), tidak terduga kita menemukan yang tidak hanya merupakan tanda sendiri sama
sekali berbeda, tetapi bahwa ASL
menggunakan konfigurasi tangan sedikit lebih terjepit, dengan jari-jari
keriting bawah, tinju seperti, ke telapak tangan, jauh lebih daripada di CSL.
Jika seorang penyanyi dari CSL belajar untuk menandai tangan semua fitur dengan
ASL yang benar artikulasi yang
disebutkan di atas, namun tetapnya atau konfigurasi tangannya dalam mode CSL
kurang terjepit, hasilnya akan dimengerti dengan penandatangan ASL, namun akan
ada sesuatu yang berbeda tentang hal itu. Ini akan menjadi setara dengan bahasa
isyarat untuk berbicara dengan aksen asing!
Ini mungkin menjadi tempat yang baik untuk
menekankan bahwa, bertentangan dengan harapan umum, tidak ada bahasa isyarat
universal. Ada perbedaan dialektika bahkan kuat dalam bahasa. Ada perbedaan
dialektika kesulitan yang kuat dalam memahami penandaan tangan dari Lyon, dan
sebaliknya. Anda mungkin akan terkejut untuk mengetahui juga, bahwa bahasa
isyarat Amerika dan Bahasa Isyarat Inggris
tidak saling dipahami. American Sign Language sebenarnya memiliki lebih
banyak kesamaan dengan Bahasa Isyarat Perancis dibandingkan dengan Bahasa
Isyarat Inggris karena (ASL) berasal dari Bahasa Isyarat Perancis pada abad
kesembilan belas. Daftar bahasa, seperti bicara berbasis bahasa, memiliki
asal-usul mereka sendiri bersejarah di seluruh dunia dan mengembangkan
sepanjang garis masing-masing.
Sintaks dari bahasa isyarat
Dalam
bahasa diam, kata indivisual terstruktur bersama-sama menjadi kalimat menurut
aturan sintaksis, jantung tata bahasa. SL juga memiliki aturan yang mengatur
hubungan antara tanda individu dalam sebuah kalimat. Sementara kata-kata dan
morfem dari kalimat dalam bahasa seperti bahasa Inggris tepat ditandai dengan tangan di udara pada semacam
khayalan papan dua dimensi , dengan
kata-kata (dan morfem) urutan linier, kalimat SL secara radikal berbeda.
Urutan Mereka tidak linier tapi reaksi
tiga dimensi . Seperti ruang memungkinkan untuk kombinasi makna dan campuran
simultan dari sejumlah elemen berarti yang tidak dapat diproduksi secara
linear. Akibatnya, kalimat ditandai dapat diproduksi dengan cepat . Pengindeksan
yang tepat atau pembagian ruang sangat penting untuk memproduksi kalimat
gramatikal di SL. Sebagai contoh, kata benda, kata ganti, dan kata kerja harus
diberikan poin dalam ruang pembicara. Titik-titik ini harus dibedakan seluruh
kalimat dan tetap sebagai titik acuan sehingga hubungan komponen dari kalimat,
subjek frasa nomina, verba, dan obyek frase nomina, yang terkait satu sama lain
dengan cara yang koheren. Daerah di depan dada pembicara adalah bidang di mana
referensi bisa ganti menandai 'dia' atau 'dia' dibiarkan menggantung
seolah-olah di angkasa dan disebut
kembali sebagai 'pronomina relatif'. Gerakan verba mengikuti dari titik ke
titik, awal dan titik akhir yang menunjukkan subyek dan hubungan-hubungan
objek. Variasi gerakan dapat terjadi
untuk menunjukkan waktu dan aspek, dan ruang dapat dibangun dalam
ruang-ruang untuk menanamkan satu kalimat, untuk kontras satu peristiwa dengan
yang lain atau untuk mengacu pada sesuatu ke masa yang jauh. Pelanggaran terhadap aturan yang
mengatur hubungan antara tanda-tanda akan menyebabkan kebingungan, dengan
terjadinya kalimat buruk terbentuk dan ambigu, sangat mirip dengan apa yang
terjadi dalam pidato ketika aturan tata bahasa yang rusak. Paralel antara
penguasaan bahasa melalui bicara dan bahasa isyarat yang sangat mencolok. Dalam
memperoleh SL sebagai bahasa pertama, anak-anak tuli melewati tahap
perpindahan bahasa yang mirip dengan
pendengaran anak. Penandaan tangan mereka berjalan melalui tahap tunggal tanda
dan bahkan tahap telegraf tanda tidak termasuk sederhana. Namun, ada masalah
linguistik, yang harus dihadapi dan diatasi anak-anak tuli, yang unik untuk SL,
seperti pengindeksan ruang yang tepat.
Sementara penandaan tangan muda pada usia 3 belum sepenuhnya dibedakan dengan
ruang penandaan tangan mereka dengan benar, hal ini juga telah dilakukan pada
usia 5 tahun. Bahwa semua usia ini adalah hal penting dari sistem bahasa formal
akan diperoleh.
4.5 Tanda Bahasa dalam Perjuangan Pendidikan Tuli
4.5.I SL Keluar
dari ketertutupan dan masuk dalam kehormatan
AS
baru-baru ini tahun 1970-an beberapa teori menyangkal bahwa signLanguage bisa
menjadi bahasa asli. Penyangkalan ilmiah tersebut mencerminkan bias suatu
pendapat, juga banyak orang mendengar.
Banyak bias terbaru terhadap SL berasal
dari pemahaman yang buruk tentang sifat bahasa. Sampai revolusi dari Mentalist
dalam linguistik dan psikologi, yang dipelopori oleh Chomsky pada tahun 1960,
Bahasa umumnya disamakan dengan bicara dalam konsep behaviouristic . Dengan
munculnya Mentalist, bahasa mulai secara luas dianggap sebagai semacam
pengetahuan dalam pikiran yang berhubungan
tetapi tidak tergantung dari manifestasi fisik dalam bicara. Seperti
pemisahan konseptual hanya Apa yang menandai tangan peneliti bahasa yang
diperlukan untuk mengejar investigasi mereka ke SL. Merekan kemudian mampu
merumuskan tata bahasa SL abstrak bagi pikiran, tata bahasa mental yang mirip,
pada intinya mereka meyakini bahwa orang-orang yang bermasalah dengan
pendengaran memiliki kemampuan. Kepercayaan yang kuat dipegang olehbanyak pendidik tuli dan masyarakat umum bahwa
bicara itu diperlukan bagi seseorang untuk menjadi manusia bisa ditantang.
Signery sekarang bisa, seperti speaker, akan dikatakan memiliki bahasa,
meskipun mereka tidak memiliki tawaran berbicara. Berbicara tidak bisa dianggap sebagai perbedaan karakteristik
bahasa manusia. Perubahan Strad slowely pada 1970-an segera mengumpulkan
Momentum dan pada pertengahan tahun 1970-an para pendukung SL mulai berhasil.
Segera SL secara aktif diajarkan di sejumlah besar sekolah untuk orang tuli di
AS, Swedia, dan negara-negara lainnya.
Selama
periode yang sama, dengan memberikan dorongan untuk SL masyarakat tuli keluar
dari ketertutupan, untuk berbicara. Signers mulai mendapatkan kepercayaan diri
dan kebanggaan untuk mengkomunikasikan perasaan tersebut kepada masyarakat
luas. Tidak lagi melakukan tuli SL dan teman-teman mereka mendengar dan kerabat
merasa malu seperti dulu.
Ketika
20 tahun lalu aktris Louise Fletcher [orang hoaring] membuat pidato
penerimaannya untuk Academy Award untuk perannya dalam film One Flew Over The Cuckoo’s, cukup gempar ketika dia secara
bersamaan ditafsirkan berbicara sendiri ke ASL untuk manfaat dari ibunya tuli
dan ayah yang pekerja program TV, pertemuan dan acara khusus dengan interpreter
simultan hadir untuk kepentingan orang tuli. Masalah orang tuli dan pendidikan
tuli bahkan menjadi tema utama dalam film lain yang terkenal. Film ini juga
berfungsi untuk menghilangkan beberapa kesalahpahaman yang dimiliki oleh
publik. Kemudian, hanya beberapa tahun kemuadian , sebuah insiden terjadi yang
juga bertugas di tingkat yang sama untuk membuat masyarakat lebih sadar pendengaran
orang tuli dan SL.
Seorang wanita yang bermasalah dengan
pendengaran diangkat dekan di perguruan tinggi hanya dari Amerika untuk
College, tuli Gallaudet di Washington, DS. Karena dia tidak bisa berkomunikasi
di ASL-bahasa yang digunakan secara umum oleh mahasiswa dan fakultas di kampus
siswa mulai protes, yang dilaporkan pada semua jaringan berita utama. Ini
publisitas, dan simpati berikutnya untuk tujuan dari mahasiswa, memaksa
direktur universitas untuk mundur dan menunjuk seorang dekan yang bilingual di
lisan bahasa Inggris dan ASL. Disebutkan bahwa siapa Thomas Gallaudet
[1787-1851], setelah selesai dari perguruan ternama, memberikan kontribusi
signifikan ke Amerika setelah studi di Perancis.
Bahasa isyarat SL telah menjadi
begitu luas bahwa kebanyakan orang di komunitas tuna rungu di negara-negara
Amerika dan Kanada sekarang menggunakan ASL dalam berkomunikasi dengan satu
sama lain. SL memungkinkan mereka untuk berkomunikasi dengan cara yang sangat
efisien dengan cara yang paling menyenangkan untuk mereka. Bahkan di Jepang di
mana bahasa isyarat apapun dilarang di sekolah-sekolah umum, orang tuli
berhasil belajar SL Jepang di luar sekolah biasa. Seringkali departemen kesejahteraan sosial kota menawarkan kursus SL. SL telah alami menjadi
bagian dari komunitas tuli meskipun oposisi pemerintah nasional untuk itu
Bahkan di sekolah untuk tuna rungu di Hiroshima di mana bahasa isyarat
dilarang,. saya melihat siswa menndai satu sama lain ketika mereka guru mereka
tidak melihat. Sebenarnya, karena ucapan dan kemampuan menulis mereka yang
minim, tidak ada cara lain yang efektif bagi mereka untuk berkomunikasi dengan
satu sama lain. Tidak ada orang berhenti dari belajar SL dari orang lain jikan
mereka ingin berkomunikasi.
Bagaimana
orang-orang tuli yang berkomunikasi dengan anggota komunitas pendengaran
dominan adalah masalah yang berbeda, dan tetap begitu. Pembatasan hal tidak
mungkin bahwa orang-orang yang mendengar akan belajar SL dalam skala besar,
maka perlu untuk tuna rungu mendapatkan beberapa sarana komunikasi dengan
mendengar orang. Dalam hal ini dua pendekatan utama yang tersedia. Salah
satunya adalah Pendekatan Oral tradisional. Yang lain, sedikit diketahui,
adalah Pendekatan Bahasa Tertulis.
4.6 Pendekatan Oral
Disamping
Masyarakat umum, bahwa orang SL telah berjuang dengan pengakuan selama
bertahun-tahun dengan baik, ini telah menjadi pendukung pengajaran berbicara,
umumnya disebut Pendekatan Oral. Pendekatan Oral memiliki tujuan yang layak,
untuk mengajar sidang - gangguan untuk memproduksi dan memahami pidato sehingga
mereka dapat berkomunikasi dengan komunitas pendengaran. Sayangnya, historis,
para pendukungnya, yang menguasai pendidikan di sekolah-sekolah, menganjurkan
penggunaan pidato dengan mengesampingkan setiap sarana komunikasi lainnya.
Penggunaan SL itu dilarang bahkan untuk komunikasi antara orang-orang tuli.
Sementara pendukung Pendekatan Oral, seperti Daniel Ling dan Ewings, bahkan
mungkin mengakui bahwa bahasa isyarat merupakan bahasa, mereka berpendapat
bahwa tidak hanya pembelajaran dan
penggunaan bahasa isyarat negatif mempengaruhi perolehan suara tetapi tanpa
berbicara akan ada cacat berpikir. [Ajaran membaca dan bahasa tertulis yang
diserang karena alasan yang sama, itulah sebabnya mengapa pengajaran membaca di
sekolah tuli begitu banyak. Ditunda sampai anak berada di luar kelas kedua atau
ketiga ini perdebatan, tidak ada yang
memiliki dasar dalam pengamatan empiris atau teori psikolinguistik adalah palsu. Jika pengetahuan SL dan membaca memfasilitasi
akuisisi berbicara. Dan, sejauh pemikiran yang bersangkutan, orang tuli tanpa
bicara ditemukan untuk menguji hampir sama tinggi dalam kecerdasan sebagai
mendengar orang. Sangat disayangkan bahwa ide-ide yang keliru seperti ini terus
diadakan di begitu banyak tempat.
Pendekatan
Oral berfokus pada pengajaran produksi ujaran. Anak-anak dari usia 2 atau 3
tahun secara khusus dilatih dalam
keterampilan mengartikulasikan suara berbicara. Juga, tidak jarang saat ini
memiliki beberapa peralatan komputer yang menampilkan suara dan membantu dalam
pengajaran. Peralatan yang menampilkan suara dan membantu dalam pengajaran.
Banyak anak merespon dan tidak memperoleh kemampuan yang adil untuk berbicara.
Untuk sebagian besar adalah anak-anak yang hanya memiliki gangguan pendengaran
moderat. Mereka yang memiliki gangguan mendalam biasanya melakukanya dengan
buruk.
Pemahaman
pidato biasanya dipupuk melalui kedua memanfaatkan setiap sisa pendengaran
peserta didik dapat memiliki dan pengajaran 'speechreading', umumnya dikenal sebagai
membaca 'Dengan speechreading., Orang yang mahir dapat menafsirkan sekitar
setengah dari apa yang dikatakan, yang, mengingat jumlah besar redundansi dalam
pidato biasa, sudah cukup untuk menebak sebagian besar konten. Suara Banyak,
Namun, sangat sulit untuk membedakan secara visual, ini termasuk vokal
kebanyakan, 'misalnya' a ',' e ',' u ',' aku ', dan konsonan banyak seperti' k
',' g ',' l ',' r ',' s ',' sh ',' ch ', dan' j 'Selain itu., dalam bahasa
tertentu, seperti Jepang, yang memperlihatkan bibir yang relatif sedikit dan
gerakan wajah, artikulasi berbicara sangat sulit untuk ditangani.
Seperti
yang telah disebutkan di atas, masalah besar dengan Pendekatan Oral adalah
cenderung hanya bekerja untuk sebagian dari populasi cacat pendengaran.
Penelitian menunjukkan, unsurpris-ingly, bahwa orang-orang lees dapat
mendengar, lees mereka akan mampu menghasilkan dan memahami dalam hal spceeh.
Anak relatif sedikit yang lahir dengan gangguan pendengaran berat atau mendalam
[lebih dari 75 atau 80 desibel di telinga mereka lebih baik] memperoleh setiap
tingkat berbicara yang signifikan. Bahkan mereka dengan gangguan pendengaran
yang lebih rendah sering tidak memperoleh pengucapan cukup jelas sehingga
mereka dipahami oleh orang pendengaran biasa. Sebagai hasil dari pendidikan
Pendekatan murni Oral, banyak orang cacat pendengaran dalam kemasyarakatan
tetapi tidak dapat memadai berkomunikasi dengan rekan-rekan mereka yang
sama-sama cacat pendengaran. Itu situasi tragis yang berlanjut di banyak tempat
saat ini, yang meyakinkan banyak pendidik orang tuli, bahwa program pendidikan
harus mencakup bahasa isyarat dalam kurikulum mereka bersama dengan
berkomunikasi. Program-program ini umumnya dikenal dengan nama Komunikasi
Total, tersebar di tahun 1970-an di Amerika Serikat, Kanada dan Komunikasi
Jumlah negara lainnya . kemudian kini diterima secara luas di banyak negara,
bagaimanapun, masih ada resistensi yang besar [seperti di Jepang] untuk
mengakui bahasa isyarat ke dalam kurikulum pendidikan untuk
sidang-impainred.
4.7 Pendekatan Bahasa Tulis
4.7.1Pentingnya melihat huruf dan pentingnya pendekatan
Walau jumlah komunikasi tuli telah
ditingkatkan seluruhnya pada satu cara
berpengaruh nyata dengan menyediakan bahasa isyarat sebagai suara tambahan
untuk melatih, satu masalah bidang pendidikan lain adalah melihat huruf. Rata-rata orang masih berpendengaran
lemah ( setelah peristiwa sebanya komunikasi Pendidikan melulus dari sekolah
menengah dengan satu padanan taraf bacaan hanyalah ke tersebut satu anak dengar
di susun 5 sekolah dasar. (kemampuan penulisan mereka adalah lebih miskin). Ini
adalah benar untuk kita, Jepang dan negara berkembang lainnya bahkan lebih
rendah. Masalahnya adalah bahwa
baca-tulis bergantung pada pengetahuan
dari suara biasa mendasari bahasa, kita mempergunakan pengetahuan kita dari
bahasa biasa keduanya untuk memahami apa kita membaca dan untuk menghasilkan
apa yang kita tulis. sejak orang berpendengaran lemah pengetahuan dari suara
mendasari bahasa biasanya sangat terbatas, kemampuan dari orang itu untuk
memperoleh melihat huruf berlandaskan
pengetahuan yang sama dengan cara terbatas.
Mengingat kebutuhan yang luar
biasa untuk bisa bacaan dan menulis agar
berfungsi baik di masyarakat modern, tidak mengherankan bahwa kita menemukan
kebanyakan orang berpendengaran lemah
mampu hanya taraf rendah, satu
taraf penting adalah melihat huruf,
bermanfaat bagi pendekatan bahasa tulisan.
Ide penting dari pendekatan ini
adalah menulis sepenuhnya dari satu
bentuk suara biasa mendasari. Seperti
bahasa inggris atau bahasa spanyol (ini
dijelaskan, frasa dan kalimat) diperoleh melalui asosiasi langsung dengan
objek, peristiwa dan situasi pada lingkungan. Dengan demikian, sama halnya
dengan anak-anak mempelajari bahasa oleh awalnya menghubungkan bunyi suara yang
mereka dengar dengan pengalaman lingkungan, heariing merusak anak-anak dapat mempelajari
bahasa pada satu cara, tapi melalui satu
asosiasi dengan bentuk tertulis dengan pengalaman lingkungan. sebagai hasil,
anak-anak berpendengaran lemah akan memperoleh sebenarnya kosa kata yang sama
dan sintaksis dari bahasa seperti inggris, Denmark atau Cina, hampir semua kosa
kata dan struktur sintaksis yang tampak di suara juga tampak dalam tulisan. e.
g hubungan katakerja subyek, menolak hubungan kata kerja, peniadaan,
pertanyaan, formasi anak kalimat pasif.
Bukan untuk mengatakan tidak ada perbedaan di suara
dan penulisan. sebenarnya, meskipun demikian, satu pengetahuan dasar mendasari
bnetuk keduanya dari ekspresi, karena hampir apapun kalimat atau ide yang dapat
diekspresikan di suara dapat diekspresikan dalam tulisan, kita dapat berkata,
oleh analogi, itu bahasa tulisan dapat dipengaruhi sebagai satu bahasa lengkap.
Utama perbedaan ini dengan suara memprihatin berarti fisik dari transmisi
menulis cahaya, sementara suara melibatkan bunyi.
4.7. 2 Perspektif sejarah
Sebenarnya, ide yang saya ajukan di sini tidak
baru. selanjutnya, mereka memiliki
riwayat luar biasa walau sedikit
Pendidikan tuli sadar akan
mereka. ketika pertama sekali saya menyusun ide ini, saya sungguh-sungguh percaya bahwa mereka adalah
asli dengan saya. Itu hanya setelah dengan sukses asli pelengkap meneliti
dengan anak-anak tuli Amerika dan Jepang menggunakan pendekatan ini,
apakah menemukan bahwa seratus tahun
lalu tidak lain adalah Alexander Graham
Bell telah mengajari bahasa tulisan untuk
anak usia 5 tahun dengan suatu kesuksesan dan itu 200 tahun sebelum
seorang pemikir dengan nama
Dalgarno pada tahun 1680, dirumuskan
pendekatan yang sama. Bell sangat
menyadari konsepsinya dalgano pada 1883
untuk dinyatakan oleh Bell. Saya
meyakini bahwa George Dalgarno, telah memberikan prinsip benar untuk kita mengerjakan pada
saat ketika dia menyatakan bahwa satu orang tuli harus diajari untuk membaca
dan memberi suara dengan menulis nama sebisa mungkin dengan cara yang sama,
diajari untuk mengucapkan dan memahami bahasa ibu mereka. Kita harus berbicara
dengan anak tuli sama halnya kita lakukan ke suatu sidang, dengan pengecualian
bahwa perkataan ditujukan untuk matanya dari pada telinganya.
4.7. 3 Membedakan
bahasa tulis dan bahasa lisan
Bahasa Tulisan dan bacaan
mempertimbangkan pembedaan di antara bahasa tulisan dan bacaan. perbedaan utama
tertulis dan belajar secara langsung dari lingkungan tanpa penggunaan dari
apapun. utama sarana ilmu bahasa, bahasa
isyarat seperti suara. membaca sebagai pembanding, adalah belajar melalui satu
sarana ilmu bahasa, dengan demikian, ketika kita mengatakan bahwa satu orang
pendengar belajar membaca, kita mengira orang itu telah mempunyai bahasa utama
untuk belajar membaca. lagipula bahwa bacaan
diajari melalui sarana dari bahasa itu, contohnya suara. secara khas kita
menunjuk ke satu perkataan tertulis kata('anjing '). dan di bacaan satu buku
yang kita tunjuk ke perkataan tertulis yaitu kalimat , mereka mengatakan
('anjing kecil lari menuju anak perempuan). anak menginterpretasikan perkataan
tertulis atas pertolongan kosa kata dan sintaksis yang mana anak yang telah
belajar berbicara yang merupakan hakekat
dari bacaan.
Bagaimanapun, seandainya kita
mempertimbangkan satu anak berpendengaran lemah dan tidak mengetahui suara atau
tanda dan kita menunjuk ke perkataan tertulis ' anjing '. anak itu tidak akan mampu untuk memahami kata
tersebut. bagaimanapun satu gambar dari satu anjing ditempatkan di sisi
perkataan tertulis, kemudian anak akan punya kesempatan terpelajar arti dari sabda.
satu anak yang mempelajari bahasa dengan cara tersebut dapat dikatakan bahasa
tulisan havelearned. penulisan sendiri adalah sarana primer untuk konsep
bahasa. anak harus menemukan arti dari kosa kata tersendiri kemudian
mempengaruhi hubungan sintaksis yang menyinggung ke butir data itu, sama halnya
dengar anak-anak lakukan dengan suara.
Mempelajari
bacaan adalah suatu proses lebih mudah dibandingkan belajar untuk
menginterpretasikan bahasa tulisan, belajar membaca tidak harus memperoleh nahu
dari bahasa. nahu telah dikenal sebelum pelajaran bacaan pertama berawal. untuk
belajar membaca, hanya mempelajari betapa bentuk tertulis yang tergambar sesuai
dengan bentuk bunyi suara dikenal. untuk mempelajari bahasa tulisan,
bagaimanapun kosa kata, bentuk kata, sintaksis dan aspek lain dari nahu harus
semua menjadi diperoleh atas dasar bentuk tertulis yang visuil dan hubungan
mereka ke objek penuh arti, keadaan dan peristiwa. anak berpendengaran lemah
harus mengalami proses yang sama dari belajar bahasa yang anak dengar melakukan
bahasa pembungaan. proses seperti itu dapat diharapkan untuk jadilah lebih
pemakan waktu dibandingkan belajar untuk baca.
4.7. 4 Penilaian terhadap pendekatan bahasa tulis
Ada sejumlah keunggulan yang berbeda dengan
pendekatan bahasa tulis, anatar lain adalah :
1. Media
pembelajaran yang tepat.
2. Pengetahuan
bahasa tulis tidak perlu diperoleh oleh instruktur.
3. Instruksi
dapat dimulai lebih awal.
4. Semua
anak sama-sama bisa mendapatkan keuntungan.
5. Akuisisi
bahasa tertulis sesuai dengan pendekatan-pendekatan lain.
6. Pengetahuan
bahasa tulis dapat memfasilitasi pembicaraan.
7. Bahasa
tulis dapat meningkatkan intelektualitas.
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Orang penderita tuna rungu dapat
berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Dan mereka juga perlu mengetahui bahasa
tulis dan mengenal huruf-huruf. Gerakan tubuh biasanya digunakan untuk
menggantikan suatu kata atau frasa, misalnya mengangguk untuk mengatakan ya;
untuk mengilustrasikan atau menjelaskan sesuatu; menunjukkan perasaan, misalnya
memukul meja untuk menunjukkan kemarahan; untuk mengatur atau menngendalikan
jalannya percakapan; atau untuk melepaskan ketegangan.
Ada satu tangan atau dua tangan untuk sistem
ejaan jari . misalnya Amerika dan Swedia, menggunakan satu tangan,
sedangkanInggris menggunakan dua .
Pengguna kedua sistem relatif cepat,
tetapi prosesnya agak sulit. Sistem dua tangan lebih cepat dan
memberikan huruf lebih mudah
terindentifikasi tetapi tidak memungkinkan tangan bebas untuk keperluan lainnya.
3.2 Kritik dan Saran
Kepada
seluruh pembaca makalah ini kami mengharapkan kritik dan saran untuk makalah
kami. Demi pemahaman yang lebih efisien lagi. Mohon maaf jika pembahasan kami
kurang dapat di pahami. Terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
D. Steinberg
Danny. 1993. An Introduction to Psycholinguistics. New York : Longman.
Langganan:
Komentar (Atom)