Sabtu, 05 Januari 2013

SEDIH


4 januari 2013 (23:46)                      SEDIH
Ya Allah... aku telah membuatnya menjatuhkan air mata. Sahabat seperti apa aku ini???? Pantaskah aku disebut sebagai sahabat?? Mungkin tidak!!! Aku terlalu naif untuknya....
Tidak ada maksud untuk membuatnya menangis,,tidak sama sekali. Aku juga tidak tau, kalau kata-kataku adalah penyebab ia menangis...aku juga sedih.
Mengapa kita harus ribut berselisih  paham dan pendapat karena orang lain... yang pada akhirnya kita yang rugi,,,apa mungkin itu karena kita berbeda dari teman-teman yang lain.
Satu kata malam ini yang sudah pernah aku dengar “ latar belakang kita berbeda “ oke,,semua kita memiliki latar belakang yang berbeda. Namun aku tidak pernah menjadikan itu pembatas untuk kita bersahabat. Malam ini aku juga sama sepertimu “menangis batin”. Satu hal yang harus kamu ingat sahabatku “aku tidak pernah melihat latar belakangmu, yang terpenting untuk aku adalah bagaimana dirimu sekarang”,,untuk menjadi sahabat bukan latar belakang yang terpenting,,tetapi kepercayaan kepada sesama.
Ya,,aku memang tidak terlalu banyak tau tentang latar belakangmu, karena kamu tidak mau membaginya denganku. Tidak masalah, aku yakin kamu bisa menyelesaikan masalah kecil ini, karena masalah besar saja kamu bisa menghadapinya!!!
Aku menyadarinya,,,,tapi aku juga ingin kamu menyadarinya. Sama-samalah kita sadar!! Kamu bilang aku yang terbaik sekaligus yang terjahat di antara teman-teman lain,,oke aku terima itu, karena memang begitu kenyataannya. Dan aku juga merasakan hal yang sama.
Aku menyesal marah malam ini,,,aku menyesal cerewet malam ini..,dan yang paling aku sesalkan adalah menjawab telphonmu malam ini. Andai aku tidak menjawab telphonmu malam ini, kita tidak akan begini. Tidak akan ada emosi dan air mata.
Aku tidak memintamu untuk memilih aku atau mereka. Aku tidak pernah melarangmu untuk dekat dengan siapapun. Jangan jadikan aku seolah-olah penentu dengan siapa kamu boleh dekat. Jangan!!
Semua ini terjadi mungkin karena kita belum mengenal satu sama lain dengan baik. Aku sakit kamu bilang aku “angin-anginan”,, aku menangis saat ucapanmu seolah-olah aku yang salah di banding mereka. Jika sahabat aku saja bisa berfikiran demikian bagaimana dengan yang lain,,orang yang lebih tidak mengenalku???
Aku benci suasana seperti ini, aku tidak menginginkan suasana seperti ini...aku inginkan kehangatan dalam bersahabat bukan beku dan dingin serta emosi seperti ini..BUKAN!!
Benci, marah, kesal...iya aku merasakan semua itu denganmu,,tapi itu tidak lebih besar dari rasa sayangku ke kamu!! Jangan bilang kamu tidak berguna dalam hidupku.. kamu salah besar!!! Karena kamu sangat,sangat, dan sangat berguna dalam hidup aku. Dan tidak perlu aku ungkapkan satu persatu ke kamu.
Kenapa aku orang pertama yang kamu kabari mengenai keadaan itu?? Aku juga tidak tau, karena kamu tidak mau memberi tau ku. Padahal ada seseorang yang lebih pantas tau di banding aku. Namun aku tepis semua fikiran negatif itu dari otak dan hatiku. Sampai banyak yang bilang aku kedua tetapi di utamakan, hanya saja saat-saat sedih, kalau bahagia baru dengan yang lain. Sedih aku mendengar komentar mereka tentang hal itu, tapi hati kecilku menahan untuk tidak larut dalam komentar itu. Hati kecilku mengatakan,, “karena aku penting buatmu “ tetapi itu hanya anggapanku saja, benar atau tidaknya kamu yang tau sobat!!
Apa pernah kamu tau,, aku sedih melihatmu seperti itu?? Aku seolah-olah dapat merasakan sakitmu. Tetapi di depanmu berusaha aku menutupi kesedihan dan kekhawatiranku terhadapmu. Karena aku tidak ingin menambah beban di pundakmu. Aku simpan air mataku di depanmu. Tetapi di belakangmu, aku juga sakit,,aku juga menangis,, aku takut kehilanganmu..takut sekali!! Tetapi tak banyak yang dapat aku lakukan untukmu..hanya do’a dan do’a sobat!!!
Aku tidak tau masalah apa yang sedang kamu hadapi sekarang,,,tapi yang jelas aku yakin kamu kuat. Kalau kamu yakin untuk membaginya denganku aku siap mendengar dan memberikan solusi jika dibutuhkan. Tetapi jika kamu tidak yakin tidak apa-apa. Walaupun kita sahabat mungkin ada hal-hal yang sangat pribadi sekali yang tidak perlu aku tau. Aku memahami hal itu.
Aku ucapkan terimakasih sobat,, semua komentarmu aku yakin untuk kebaikanku. Hanya saja kadang-kadang aku merasa itu tidak benar. Maka pahami jugalah aku!! Aku bukan dia, bukan mereka,, karena setiap kami berbeda. Dan aku harap kamu mau memahami itu.
Aku senang, jika kamu sedih orang lain mencemooh atau menghina aku, itu artinya sebagai sahabat kamu sayang denganku!! Tetapi kamu lebih tau bagimana aku sebenarnya, jadi biarkan sajalah mereka dengan hinaan mereka. Tanpa kamu bilangpun aku mengetahuinya sedikit.  Memang benar terkadang jarak kita terlalu jauh,,terkadang aku tidak mengenalimu. Mungkin begitu juga denganmu.
Benar memang kadang lidah tidak sejalan dengan hati. Hatiku bilang ya, tetapi lidah mengatakan tidak. Sebagai manusia itu adalah kesalahan besar dalam hidupku. Benar katamu, bagaimana aku bisa jujur pada orang lain, jika pada diriku sendiri aku tak mampu untuk jujur. Kamu adalah sahabat sekaligus guru dalam hidupku. Guru yang tidak ada batas semesternya. Kamu ada setiap saat aku ingin belajar.
Sahabatku...maafkan aku!!! Aku tidak bermaksud menyakitimu,,,,,, aku tak ingin medengar suara paraumu,,aku juga tak ingin mendengar tangismu... maafkan aku yang banyak lumpuh dalam berkata. Aku tidak ingin kamu pindah,,,aku tidak ingin kamu pergi...TIDAK INGIN!!! Tariklah kata-katamu dulu saat aku hendak pindah, dengan begitu kamu akan tau.
Jika kamu merasa aku tidak pantas lagi menajdi  sahabatmu tinggalkan saja aku. Aku akan coba memahaminya,,itu karena aku tidak baik untukmu!!! Kata-katamu mengandung beribu arti yang tidak aku pahami maknanya....tinggalkan saja aku jika aku tak pantas lagi menjadi sahabatmu!!!
Akan aku coba melepas semuanya, tapi kenangan manis dan pahit bersamamu tidak akan mungkin hilang,,,,semua itu akan tinggal dimemori ku....

Rabu, 26 Desember 2012

LUKA KU HARI INI

Goresan 26 desember 2012. YA... luka ku hari ini tidak mungkin akan terlupakan seumur hidupku mungkin!!
terimakasih teman atas luka ini, dari luka ini aku semakin memahami siapa dirimu.
berdo'alah saat kau datang membutuhkanku, Allah masih membukakan hatiku untuk membantumu.
Aku juga berharap agar hatiku tidak tertutup untuk melihat kebaikanmu, karena luka ini.
Aku kira kau adalah teman yang dapat di andalkan untuk hal kecil seperti ini, namun perkiraan ku hari ini salah besar..salahhhh sekali kawan..,.( kau adalah teman yang tak tau balas budi ) aku tidak mengharapkan kau membalas semua yang pernah aku lakukan padamu..tetapi paling tidaknya kau sadar diri bahwa  suatu saat nanti kau masih akan membutuhkanku dan mungkin begitu juga padaku masih membutuhkanmu.

sering aku mendapatkan perlakuan jahat darimu,, bukan sifatku untuk membalasnya...
namun teman, hari ini air mataku telah terjatuh menahan sakit ini. dan aku yakin kau tidak dapat merasakannya. karena kau adalah teman yang berhati emas tapi jauh dari kebijakan.

Walaupun demikian teman,, aku ucapkan terimakasih atas luka ini. dan aku berdo'a semoga engkau berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi...
cukup aku yang lukai seperti ini...cukup aku saja....


Kamis, 13 Desember 2012

KALIMAT DALAM WACANA


KALIAMAT DALAM WACANA
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang dan Masalah
1.1.1        Latar Belakang
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulis yang memiliki sekurang-kurangnya subjek dan predikat. Bagi seorang pendengar atau pembaca, kalimat adalah kesatuan kata yang mengandung makna atau pikiran. Sedangkan bagi penutur atau penulis, kalimat adalah satu kesatuan pikiran atau makna yang diungkapkan dalam kesatuan kata. Menurut KBBI (2008: 609) kalimat adalah kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan.
Dapat dipahami bahwa sebuah wacana melebihi sebuah kalimat. Hal ini sesuai dengan pengertian bahasa secara sederhana, yakni “alat komunikasi”. Sebagai alat komunikasi, bahasa tentunya tidak diucapkan satu kalimat, tetapi penyampaian gagasan, pikiran, perasaan tersebut dapat berupa kalimat berangkai. Selain itu, analisis terhadap wacana dimaksudkan untuk menginterpretasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa. Inilah yang dimaksudkan dengan wacana dari definisi di atas.
Bila terdiri dari sejumlah kalimat, untuk mencapai keutuhan sebuah wacana, kalimat-kalimat tersebut harus  memiliki kaitan antara yang satu dengan yang lain. Sebagai akibat dari keharusan maka kalimat di dalam wacana, maka strukturnya bisa bermacam-macam.
      Pengaitan sebuah kalimat dengan kalimat lain di dalam sebuah wacana dapat dilakukan dengan sarana atau alat sebagai berikut:
a.       Konjungsi;
b.      Penunjukan;
c.       Kata ganti;
d.      Perapatan;
e.       Padanan kata;
f.       Lawan kata;
g.       Hiponimi;
h.      Kesamaan tema;
i.        Kesejajaran.

1.1.2        Masalah dan Batasan Masalah
1.1.2.1  Masalah
Berdasarkan apa yang di uraikan pada latar belakang, ada beberapa masalah yang timbul, terkait dengan pembahasan kami mengenai “ Kalimat dalam Wacana “ yaitu:
1.      Sarana apa sajakah yang diperlukan dalam pembentukan wacana?
2.      Apa yang di maksud dengan wacana?
3.      Ada berapakah jenis wacana?
4.      Seberapa penting kalimat dalam pembentukan wacana?
5.      Bagaimana struktur kalimat dalam wacana?

1.1.2.2  Batasan Masalah
Berdasarkan beberapa masalah yang timbul dalam makalah ini, kami hanya membahas beberapa masalah yaitu:
1.      Sarana apa sajakah yang diperlukan dalam pembentukan wacana?
2.      Apa yang di maksud dengan wacana?
3.      Bagaimana struktur kalimat dalam wacana?
1.2  Tujuan
Tujuan kami menyusun makalah ini yaitu:
1.      Untuk menegtahui dan memahami apa saja sarana yang diperlukan dalam pembentukan wacana.
2.      Untuk mengetahui dan memahami apa yang disebut dengan wacana.
3.      Untuk mengetahui dan memahami struktur kalimat dalam wacana.
1.3 Ruang Lingkup

Pengaitan sebuah kalimat dengan kalimat lain di dalam sebuah wacana dapat dilakukan dengan sarana atau alat sebagai berikut:
a.       Konjungsi;
b.      Penunjukan;
c.       Kata ganti;
d.      Perapatan;
e.       Padanan kata;
f.       Lawan kata;
g.       Hiponimi;
h.      Kesamaan tema;
i.        Kesejajaran.
Wacana merupakan satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Sebauah wacana sebagai satuan terbesar di dalam hirarki kebahasaan bisa berupa kalimat. Bila terdiri dari sejumlah kalimat, untuk mencapai keutuhan sebuah wacana, kalimat-kalimat tersebut harus  memiliki kaitan antara yang satu dengan yang lain. Kalimat di dalam suatu wacana memiliki struktur yang bermacam-macam.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Wacana
            Wacana adalah satuan bahasa yang terdiri dari sebuah kalimat atau beberapa kalimat yang menyatakan satu pesan atau satu amanat yang utuh. Sebuah wacana sebagai satuan terbesar di dalam hirarki kebahasaan bisa berupa satu kalimat, sepeti ungkapan Jagalah kebersihan. Akan tetapi, lazimnya terdiri dari sejumlah kalimat yang membentuk suatu paragraf. Setiap paragraf dalam wacana memiliki sebuah pikiran pokok dan sejumlah pikiran penjelas. Pikiran pokok tersebut direalisasikan dalam sebuah kalimat utama yang selalu berwujud kalimat bebas. Sedangkan pikiran penjelas direalisasikan dalam kalimat-kalimat penjelas yang wujudnya berupa kalimat terikat. Di dalam wacana, kalimat tidak dapat berdiri sendiri karena satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Akibatnya, struktur kalimat pun menjadi berbeda dengan strukturnya sewaktu berdiri sendiri.
            Istilah wacana (discourse) yang berasal dari Bahasa Latin, discursus, telah digunakan baik dalam arti terbatas maupun luas. Secara terbatas, istilah ini menunjuk pada aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan yang mendasari penggunaan bahasa baik dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Secara lebih luas, istilah wacana menunjuk pada bahasa dalam tindakan serta pola-pola yang menjadi ciri jenis-jenis bahasa dalam tindakan.
            Beberapa contoh kalimat dalam wacana adalah sebagai berikut.
a.       [Benyamin] artis penyanyi, pelawak, dan pemain film itu telah tiada (1). [Dia] dilahirkan di jakarta sebelum tentara jepang menduduki Indonesia (2). Wacana tersebut terdiri dari dua buah kalimat. Kalimat (1) merupakan kalimat bebas; Sedangkan kalimat (2) merupakan kalimat penjelas. Ketika sebagai kalimat yang berdiri sendiri  adalah Benyamin dilahirkan di Jakarta sebelum tentaara Jepang menduduki Indonesia;
b.       Sekarang di Riau amat sukar mencari terubuk (1). Jangankan ikannya, telurnya pun sukar diperoleh (2). Kalau pun bisa diperoleh harganya melambung selangit (3), makanya, ada kecemasan masyarakat nelayan di sana bahwa terubuk yang spesifik itu akan punah (4). Wacana tersebut dibangun oleh empat buah kalimat. Kalimat (1) merupakan kalimat yng bisa berdiri sendiri. Sedangkan kalimat (2), (3), dan (4) adalah kalimat-kalimat terikat.
            Alwi, dkk. (1998:419) mengatakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain dan membentuk kesatuan. Kridalaksana (2001:231) menyatakan bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana menurut Kridalaksana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (misal novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya), paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap. Para penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga sepakat memberikan batasan wacana sebagai berikut, “komunikasi verbal; percakapan; keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah; kemampuan atau prosedur berpikir sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; pertukaran ide secara verbal” (KBBI, 2008:1552).

2.2 Sarana Pengaitan Kalimat
            Pengaitan sebuah kalimat dengan kalimat lain di dalam sebuah wacana(paragraf) dapat dilakukan,antaralain,dengan sarana atau alat:
1.      Konjungsi,
2.      Peninjukan,
3.      Kata ganti,
4.      Perapatan,
5.      Padanan kata,
6.      Lawan kata,
7.      Hiponimi,
8.      Kesamaan tema,
9.      Kesejajaran.
Konjungsi
            Yang digunakan untuk menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat lain dalam sebuah klausa adalah konjungsi antar kalimat. Konjungsi antarkalimat ini dapat dibedakan atas :
            (a) Konjungsi yang menyatakan kesimpulan, yaitu konjungsi jadi, maka(makanya), kalau begitu, dengan demikian, dan begitulah. Contoh:
            - Bulan lalu kamu meminjam uang saya Rp 100.000,-, sekarang meminjam lagi Rp 60.000,-, jadi, hutangmu semua berjumlah Rp 160.000,-.
            (b) Konjungsi yang menyatakan ‘sebab’ atau ‘alasan’, yaitu konjungsi sebab itu, karena itu, oleh karena itu, dan itulah sebabnya. Contoh:
            - Sungai-sungai dan saluran-saluran air di jakarta penuh dengan sampah dan ketoran. Oleh karena itu,kita tidak perluh heran kalau bahaya banjir selalu mengancam jakarta.
            (c) konjungsi yang menyatakan ‘waktu’, yaitu konjungsi sebelum itu, sesudah itu, dan sementara. Contoh:
            - Kami baru saja selasai membangun balai pertemuan ini.sebelum itu,kami telah berhasil merehab masjid tua itu.
            (d) Konjungsi yang menyatakan ‘menegaskan’atau ‘menguatkan’, yaitu konjungsi itu pun, lagi pula, apalagi, selain itu, dan tambahan lagi. Contoh:
            - Orang lain menyumbang sedikitnya lima puluhg ribu rupiah, dia hanya menyumbang lima ribu rupiah. Itu pun diberikannya dengan berat hati.
            (e) Konjungsi yang menyatakan ‘pertentangan’, yaitu konjungsi sebaliknya dan berbeda dengan. Contoh:
            - Di kantor beliau sangat galak kepada bawahannya.sebaliknya, di rumah dia sangat takut pada istri.
Penunjukan
Hubungan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain di dalam satu wacana dapat pula dilakukan dengan penunjukan. Kata-kata yang digunakan adalah kata ganti tunjuk (pronomina demonstrativa) itu dan ini. Kata ganti tunjuk itu digunakan untuk menunjuk sesuatu yang jauh atau dianggap jauh; dan kata ganti tunjuk ini digunakan untuk menunjuk yang dekat atau dianggap dekat. Contoh :
- kebijakan untuk menaikkan harga BBM terpaksa dilakukan, meskipun didasari akan memberi dampak yang luas dalam masyarakat. Itu terpaksa dilakukan demi menyelamatkan anggaran belanja Negara.
- kalau kamu rajin belajar, rajin beribadat, dan taat pada orang tua, tentu hidupme akan bahagia. Ini kukatakan kepadamu karena kamu sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.
Kata Ganti (Pronomina Persona)
Kata yang digunakan untuk menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain di dalam satu wacana adalah kata ganti orang ketiga, baik tunggal maupun jamak, yaitu kata-kata dia, ia, nya, dan mereka. Termasuk juga kata beliau, almarhum, dan almarhuma. Contoh:
2.3 Struktur Kalimat dalam Wacana
BAB III PENUTUP
3.1  Kesimpulan
3.2  Kritik dan Saran



Wacana adalah satuan bahasa yang terdiri dari sebuah kalimat atau beberapa kalimat yang menyatakan satu pesan atau satu amanat yang utuh. Sebuah wacana sebagai satuan terbesar di dalam hirarki kebahasaan bisa berupa satu kalimat. Akan tetapi, lazimnya terdiri dari sejumlah kalimat yang membentuk suatu paragraf. Setiap paragraf dalam wacana memiliki sebuah pikiran pokok dan sejumlah pikiran penjelas. Pikiran pokok tersebut direalisasikan dalam sebuah kalimat utama yang selalu berwujud kalimat bebas. Sedangkan pikiran penjelas direalisasikan dalam kalimat-kalimat penjelas yang wujudnya berupa kalimat terikat. Di dalam wacana, kalimat tidak dapat berdiri sendiri karena satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Alwi, dkk. (1998:419) mengatakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain dan membentuk kesatuan.
Kridalaksana (2001:231) menyatakan bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana menurut Kridalaksana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (misal novel, buku, seri ensiklopedia, dsb.), paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap. Para penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga sepakat memberikan batasan wacana sebagai berikut.
“komunikasi verbal; percakapan; keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah; kemampuan atau prosedur berpikir sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; pertukaran ide secara verbal” (KBBI, 2005:1265).